Kamis, 02 Desember 2010

Fat-fit

Fungsi bak Fat-fit adalah untuk mengutip sisa-sisa minyak yang masih tersisa dalam sludge dengan sistem pemanasan (70-800C) dan pengendapan sesuai dengan prinsip pemurnian minyak. Setelah itu cairan sludge dialirkan ke instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk diproses sebelum di buang ke perairan umum. Sludge yang masih mengandung kadar minyak, ada yang langsung dibuang ke deoling pond maupun ke bagian fat-fit untuk dikutip kadar minyaknya. Setelah itu, sisa minyak tersebut dipompakan kembali ke bagian decanting basin. Selanjutnya sisa minyak yang terkutip ini akan dipompakan ke bagian vibro untuk diayat kembali, setelah itu minyak kembali dipompakan ke bak RO melalui Vibrating Screen/Vibro Seperator tadi. Sedangkan minyak yang berasal dari bak RO akan dipompakan kembali ke bagian CST untuk diolah kembali hingga diperoleh minyak murni, atau kembali lagi pada proses pemurnian minyak sebelumnya.
Sebenarnya apabila pengutipan minyak dalam stasiun klarifikasi dapat dilakukan maksimal, maka sisa minyak yang ada di bak Fat-fit relatif sangat sedikit atau dianggap tidak ada. Jumlah minyak yang ada dalam bak dapat di jadikan sebagai indikator, apakah pengutipan minyak di stasiun klarifikasi berjalan maksimal atau tidak. Bila jumlah minyak di bak fat-fit banyak, maka harus dievaluasi stasiun klarifikasinya.
Setelah pengutipan minyak dilakukan sesempurna mungkin, maka limbah minyak tersebut di buang ke kolam pembuangan limbah untuk diolah hingga limbah tersebut tidak berbahaya atau tidak beracun, dan selanjutnya limbah dapat dibuang ke perairan umum, seperti pabrik PTPN IV yang membuang limbah pabrik ke sungai Bah Bolon melalui kolam algae pond II.


Continuous Settling Tank (CST)

Fungsi CST adalah untuk memisahkan minyak murni dan Sludge secara besar-besaran. Minyak yang lebih ringan akan naik, sedangkan cairan lumpur akan turun. Minyak yang lebih ringan akan naik, sedangkan cairan lumpur akan turun
Beberapa hal yang perlu diperhatika dalam pengoperasian CST :
- Suhu cairan pada saat CST beroperasi 90- 960C dengan menggunakan pemanas coil (spiral), hal ini dimaksudkan agar pemisahan minyak dapat lebih sempurna karena dalam kondisi lebih tenang. Lama pemanasan pada awal olah, bila pabrik mengolah setiap hari maksimum 1 jam. Sedangkan pemanasan pada pabrik yang mengolah 2 hari sekali maksimum 2 jam. Suhu cairan dalam CST diperoleh dari pemanasan bak RO dan pemanasan awal olah dengan stem injeksi di CST. Fungsi Stem coil pada saat CST beroperasi adalah bukan untuk menaikkan temperatur, tetapi hanya untuk mempertahankan panas.
- Ketebalan minyak dalam CST pada waktu akhir olah ±50 cm dan pada saat pengutipan/operasi harus >50 cm agar kadar kotoran dan kadar air dalam minyak yang dihasilkan oleh CST lebih kecil.
Cairan minyak yang sudah dipisahkan di CST, mengandung kadar air 0,40- 0,80% dan kadar kotoran 0,20- 0,40% dialirkan Oil Tank. Semakin tebal minyak di CST pada saat pengutipan akan menghasilkan minyak dengan kadar air dan kotoran yang lebih kecil.
Selanjutnya minyak dialirkan ke Oil Purifier untuk menurunkan kadar air dan kadar kotorannya atau sering disebut pemurnian kadar air dan lumpur dari minyak. Minyak yang di keluarkan dari Oil Purifier mengandung kadar air 0,20-0,50% dan kadar kotoran 0,02%. Untuk mengurangi kadar air menjadi 0.15% minyak di alirkan ke Vacuum Drier yang sudah memenuhi standar mutu yaitu kadar air 0.15 % dan kadar kotoran 0,02%. Pada Vacuum Drier ini minyak akan dipisahkan dari uap air, yang mana minyak berada pada bagian bawah dan uap air akan di buang melalui bagian atas Vacuum Drier dan dari sini minyak di tampung pada bak penampungan minyak dan selanjutnya minyak (CPO) baru dapat dipompakan ke bagian tangki timbun untuk selanjutnya dapat dikirim.
Sementara itu cairan sludge yang keluar dari CST dialirkan ke dalam Sludge Tank dan dipanaskan dengan injeksi uap langsung sampai 95-1000C. Sebelum sludge masuk ke Sladge Tank, akan lebih baik bila disaring dulu dengan vibro separator untuk memperingan kerja Sludge Seperator.
Selanjutnya cairan sludge dialirkan ke Sludge Seperator melalui Strainer dan Pre Cleaner. Strainer berfungsi untuk memisahkan/ menghilangkan serat-serat halus yang masih ada dalam cairan sludge dengan maksud untuk meringankan beban Sludge Seperator. Sedangkan fungsi Pre Cleaner adalah untuk menghilangkan pasir. Sludge Seperator dioperasikan dalam kondisi suhu 90-950C. Sisa cairan sludge yang telah dihilangkan serat-serat kasar dan pasirnya dialirkan ke Sludge Seperator untuk dikutip minyaknya. Cairan minyak yang dikutip di Sludge Seperator dipompakan ke bak RO, sedangkan sisnya berupa sludge yang masi mengandung minyak < 0,7% dialirkan ke bak Fat-fit.

Bak RO

Fungsi Bak RO adalah untuk memanaskan minyak kasar dan mengendapkan kotoran/pasir yang masih lolos dari Sand Trap dan Vibrating/Vibro Seperator. Suhu cairan minyak kasar dalam bak RO 98-1000C. Kapasitas pompa bak RO ke CST disesuaikan dengan jumlah cairan yang di hasilkan oleh pabrik yaitu 60% x Kapasitas olah TBS. Seluruh pengutipan minyak yang masih terikut dalam sludge, seperti minyak dari sludge separator, bak fat-fit, spui (sisa pencucian) dari tanki timbun dan Oil Tank, upayakan dimasukkan dulu ke Bak RO (melalui vibrating Screen/ Vibro Seperator) agar sempat disaring dan dipanaskan terlebih dahulu. Hindarkan pengiriman langsung ke CST karena suhu minyak pengutipan minyak tersebut pasti lebih rendah dibandingkan dengan suhu di CST sehingga dapat menurunkan suhu di CST dan memperlambat pemisahan minyak. Pressure pompa pengiriman minyak kasar dari Bak RO yang langsung ke CST juga akan menimbulkan gejolak dalam cairan sehingga pemisahan minyak tidak dapat berlangsung dengan sempurna.

Stasiun Minyak

Minyak hasil pengepresan akan di teruskan kebagian vibro melalui talang minyak. Minyak ini masih mengandung kotoran berupa lumpur, pasir, serat, sehingga perlu di pisahkan dari kotoran dengan melakukan pengayakan ke bagian vibro dan hasil ayakan akan di tampung ke bagian Bak RO, kemudian dipompakan melalui pipa ke bagian CST. Minyak akan diendapkan di CST, dimana pada bagian ini terjadi dua proses dalam satu kali kerja yaitu ada minyak yang dikirim kebagian Oil Tank dan ada yang diteruskan ke bagian Sludge Tank.
Untuk tahap pemurnian minyak dimulai dari Sand Trap. Hal ini berarti harus dimulai prinsip-prinsip perlakuan minyak kasar menjadi minyak murni atau pemisahan antara minyak dan non minyak. Agar pemisahan tersebut dapat terjadi dengan sempurna, maka proses dilakukan secara bertahap, mulai dari Sand Trap – Vibro Seperator – Bak RO - CST – oil Tank – Oil Purifier – Vacum Drier. Disamping itu, sludge dari CST diproses melalui Sludge Tank – Srainner – Pre Cleanner – Balance Tank - Sludge Seperator dan juga Decanting Basin/Fat-Fit.
Fungsi Sand Trap adalah untuk menangkap pasir yang terbawa minyak kasar (crude oil) hasil pressan, dengan cara pengendapan dan dipanaskan pada temperature > 950C. Didalam Sand Trap dipasang sekat vertical untuk menghindari turbulensi aliran dan mengarahkan flow minyak kasar kebawah terlebih dahulu agar pasir yang terbawa minyak kasar tertinggal di bawah (sering terjadi atau sekat sudah kropos sehingga Sand Trap tidak berfungsi maksimal dalam pengendapan). Pintu sekat dibuat untuk mengantisipasi tumpahnya aliran dibawah sekat sehingga minyak tidak tumpah keluar Sand Trap. Disamping itu pintu sekat juga dipakai untuk mengalirkan minyak kasar ke bak RO pada saat Sand Trap akan dicuci dengan cara menambah air ke bak Sand Trap. Berat jenis air yang lebih besar (dibandingkan dengan minyak kasar) akan berada di bawah dan mendorong minyak kasar keluar Sand Trap menuju ke Bak RO. Sand Trap ini merupakan instalasi pertama yang menangkap pasir.


Pressan (Mesin Kempa)

Pressan adalah tempat untuk memisahkan minyak dari sampah berupa serabut/ fiber dan noten. Pada bagian mesin kempa ini dikenal alat seperti screw press, dan cylinder press. Kedua alat ini saling berhubungan satu sama lain, screw press untuk menekan hasil digester hingga diperoleh minyak, sedangkan cylinder press untuk menyaring minyak sebagai hasil pressan, dimana pada saat pengepresan berlangsung pegenceran dengan kadar air yang diberikan sebesar 20-24 %. Hal ini bertujuan untuk mengurangi pengentalan pada saat minyak di saring sehingga pemisahan antara sampah dan minyak dapat berlangsung dengan baik.
Pada bagian pressan ini tekanan yang terlalu tinggi akan meningkatkan pengutipan minyak tetapi biji banyak yang hancur. Sedangkan tekanan yang rendah akan menurunkan pengutipan minyak dan biji tidak hancur. Sebagai indikator pengaturan tekanan sudah tepat atau belum adalah kandungan minyak dalam ampas press yaitu 0.56% (terhadap TBS). Bila proses pengadukan sudah dilakukan sesuai dengan SPO (pisau tidak aus, suhu >950C, isian minimal ¾ bagian, aliran minyak dari bottom plate lancar, sekat penahan pada dinding digester masih terpasang) dan kondisi worm screw/silinder press tidak aus, tetapi losis minyak dalam ampas press masih 0.56%, berarti tekanan pressan masih terlalu rendah dan dinaikkan.
Pressan merupakan instalasi yang memisahkan minyak dan non-minyak. Kesalahan pengutipan minyak di pressan tidak akan bisa di kutip kembali karena miyak yang terikut dalam ampas akan terbakar dalam boiler. Berbeda dengan kehilangan minyak akibat proses di klarifikasi yang masih dapat dikutip melalui fat-fit dengan segala konsekuensinya, walaupun tidak dapat dikutip 100%.
Minyak kasar yang diperoleh dari pressan ditampung dalam talang diencerkan dengan menambah air panas 18-20%, untuk dialirkan ke stasiun pemurnian minyak. Pengenceran ada juga dilakukan di cylinder press dan vibro separator agar cairan minyak kasar tidak luber keluar vibro separator akibat lobang saringan yang tertutup kotoran. Indikator pengenceran yang benar dapat dilihat dari analisa cairan minyak kasar dalam bak RO. Bila hasil analisa laboratorium menunjukkan kandungan minyak 45-50% dan kandungan air 18-20%,berarti pengenceran sudah tepat. Ampas hasil pressan diteruskan melalui alat Cake Breaker Conveyor (CBC) ke Depericerper.

Digester (Ketel Adukan)

Digester adalah tempat pelumatan brondolan yang berasal dari threshing yang dikirimkan melalui fruit elevator dan diteruskan ke top cross conveyor lalu dimasukkan ke dalam digester. Dalam digester terdapat 4 pasang pisau yaitu 3 pasang pisau sebagai pengaduk dan satu pasang lagi sebagai pelempar brondolan yang sudah dilumatkan.
Pada proses pelumatan diperlukan suhu sebesar 80- 900 C yang di dapat dari stasiun pembangkit tenaga. Proses pelumatan berlangsung selama 15- 20 menit.


Auto Feeder

Fungsi auto feeder adalah mengatur masuknya buah yang sudah direbus ke threser secara kontinu dan merata sehingga proses perontokan brondolan dapat berlangsung maksimal.