Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

Orang - Orang yang Mencari Dunia dengan Amal Akhirat

Al-Hassan r.a berkata : "Siksaan bagi orang yang berilmu adalah mati hatinya. Mati hati ialah mencari dunia dengan amal perbuatan akhirat".

Yahya bin Ma'az berkata : "Sesungguhnya hilanglah keelokan ilmu dan hikmah, apabila dicari dunia denngan keduanya".

Sa'id bin Al-Musayyab r.a. berkata : "Apabila engkau melihat orang yang berilmu mendatangi amir-amir, maka itu adalah pencuri".

(Al Ihya Ulumiddin) 

 Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan. 


Jumat, 31 Januari 2014

Mengenai Perkara Niat Shodaqoh

    Mengenai perkara niat sedekah, maka yang di peroleh adalah yang  diniatkannya walaupun  yang menjadi tujuannya tidak samapai. 

Dalil 
Dari Abu Yazid yaitu Ma'an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu 'anhum. Ia, ayahnya dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua. "Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid.
Saya - yakni Ma'an anak Yazid - datang untuk mengambilnya, kemudian saya menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi. Ayah berkata: "Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki - untuk diberi sedekah itu."
Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda:

"Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid – yakni bahwa engkau telah memperoleh pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu - sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma'an - yakni bahwa engkau boleh terus memiliki dinar-dinar tersebut, kerana juga sudah diizinkan oleh orang yang ada di masjid, yang dimaksudkan oleh Yazid tadi." (Riwayat Bukhari)

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Kamis, 01 Agustus 2013

Jenis-Jenis Ihtihsan

 Dr. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya berjudul Al Wazis  fi ushi fiqh, membagi istihsan kepada dua segi. Pertama, istihsan dipandang dari segi hukumnya dan yang kedua, istihsan dipandang dari sandaran dalilnya.

Istihsan dari segi pemindahan hukumnya terbagi kepada dua macam[1], yaitu
  1. Istihsan dengan cara pemindahan hukum kuli kepada hukum juli
Contoh, dalam hukum syara’ seseorang tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengan barang belum ada ketika dilangsungkannya akad jual beli. Karena jual beli tanpa adanya barang ketika akad berlangsung maka akad tersebut menjadi rusak. Inilah yang disebut dengan hukum kuli. Kemudian syariat memberikan keringanan dan pengecualian kepada pembeli barang dengan uang tunai tapi barangnya dikirim kemudian dengan waktu dan jenis barang yang telah ditentukan (jual beli saham), hal semacam ini telah menjadi kebiasaan dimasyarakat, juga mempermudah bagi para penjual yang tidak memiliki modal. Pengecualian dan keringanan ini dinamakan dengan pemindahan hukum kuli kepada hukum juzi. Mengenai jual beli salamini Rasulullah Saw bersabda :
من أسلز فى سئ فيسلن فى كيل مطو م ووزن مطوم وألى مطو م.
(روالا البغلىرب)
  1. Istihsan dengan cara pemindahan dari qiyas jalli kepada qiyas khafi, karena ada dalil yang mengharuskan pemindahan itu. Contoh, mazhab Hanafi berpendapat bahwa sisa minum urung buas seperti burung elang dan gagak adalah suci dan halal diminum. Menuwut qiyas jalli, meminum sisa minuman binatang buas seperti anjing dan burung buas adalah haram karena binatang tersebut langsung minum dengan lisannya yang diqiyaskan kepada dagingnya. Menurut istihsan hal itu halal karena berebda antara mulut binatang buas dengan burung buas tadi. Kalau binatang buas minum dengan mulutya sedangkan burung buas melalui paruhnya yang bukan merupakan najis. Maka mulutnya tadi tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan. Dari perbedaan tadi maka ditetapkanlah perpindahan qiyas jalli kepada qiyas khafi.
Sedangkan istihsan dipandang dari segi sandaran dalilnya terbagi atas berikut :
  1. Istihsan yang disandarkan kepada teks Alquran serta hadits yang lebih kuat. Seperti jual beli salam yang telah dibahas tadi.
  2. Istihsan yang disandarkan kepada ijma’. Contoh, bolehnya mengambil upah dari orang yang masuk WC.
  3. Istihsan yang disandarkan kepada adat kebiasaan (‘urf). Seperti sebagian ulama yang membolehkan wakaf dengan barang-barang yang bergerak.
  4. Istihsan yang disandarkan kepada urusan yang sangat darurat. Seperti membersihkan sumur yang terkena najis, hanya dengan mengeluarkan sebagian air sumur itu, hal itu dikarenakan tidak mempengaruhi kesucian sisanya. Inilah yang disebut darurat, yang bertujuan untuk memudahkan urusan manusia. Allah SWT berfirman,

Artinya : Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (Q.S. Al-Hajj : 78)
  1. Istihsan yang disandarkan kepada kemaslahatan. Seperti keperluan mendirikan rumah penjara, menggunakan mikrofon diwatu adzan atau shalat jama’ah.
  2. Istihsan yang disandarkan kepada qiyas khafi. Seperti bolehnya minum air sisa burung buas seperti elang dan gagak[2].


[1]
Prof. Abdur Rahman I, Doi, Ph.D. Shariah Kodifikasi Hukum Islam (Shari’ah Itu Islamic Law) hal. 124-128
[2] Prof. Dr. Rahmat Syafe’i, M.A. Ilmu Ushul Fiqih  hal. 112



Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini

Minggu, 14 Juli 2013

Fisiologi Masa Nifas


-  Involusi Rahim
   Terjadi karena masing2 sel menjadi lebih kecil,yang disebabkan karena adanya proses autolysis,dimana zat  protein dinding rahim dipecah diabsorbsi dan kemudian dibuang melalui air kencing.

- Inovasi Tempat Plasenta
        Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat permukaan kasar tidak rata kira2 sebesar telapak tangan,dengan cepat luka ini mengecil pada akhir minggu kedua,hanya sebesar 3-4cm dan pada akhir nifas 1-2cm.

- Perubahan pada serviks dan vagina
     Pada serviks terbentuk sel2 otot terbaru,karena adanya kontraksi dan retraksi,vagina teregang  pada waktu persalinan namun lambat laun akan mencapai ukuran yang normal.

- Perubahan pembuluh darah  rahim
        Dalam kehamilan uterus mempunyai pembuluh2 darah yang besar,tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan bagi peredaran darah yang banyak,maka arteri  tersebut harus mengecil lagi saat nifas.

- Dinding perut  dan peritoneum
       Setelah persalinan dinding perut menjadi longgar karena teregang begitu lama,tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.

- Saluran kencing;
dinding kandung kemih terlihat edema, sehingga menimbulkan obstruksi dan menyebabkan retensi urine,dilatasi ureter dan pyelum kembali normal dalam 2minggu.

- Glaktasi
keadaan buah dada pada dua hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan pada waktu ini .buah dada belum mengandung susu melainkan colostrum.colostrum adalah cairan kuning yang mengandung banyak protein dan garam.



Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Sabtu, 13 Juli 2013

Kontekstual Hadits



Di era kapitalisme ini, tampaknya kejujuran semakin menjadi barang langka. Utopis, alias hanya menjadi impian semata. Orang yang jujur, tak lagi mujur, melainkan kojur atau ajur (celaka atau hancur). Lihatlah saja di instansi-instansi pemerintahan, orang-orang yang jujur, berhati-hati dan senantiasa memilah-milih uang yang diterimanya apakah halal atau nggak, malah bernasib nggak enak. Dijauhi teman, dianggap terlalu saklek atau idealis, bahkan ada yang sampai dimutasi ke bagian yang nggak menyenangkan atau ke pelosok yang terpencil. Begitupun yang terjadi di sekolah/kampus, pelajar/mahasiswa jujur yang nggak ingin nyontek,  ngepek, atau bekerja sama dengan teman saat ujian akan dianggap cupu dan nggak disukai. Bahkan ada yang, saking jujurnya dalam ujian, sampai nggak lulus (mungkin yang bersangkutan kurang belajarnya, wallahu a’lam).
Mungkin, pepatah yang paling relevan dengan kejujuran adalah sabda Nabi, “Katakanlah yang benar, meskipun pahit.” (HR Al Baihaqi). Pahit di sini, tentu bukan pahit bagi pendengarnya, melainkan bagi pengucapnya. Karena jika kepahitan itu terasa bagi pendengarnya, sabda Nabi akan berbunyi, “Dengarlah yang benar, meskipun pahit.”
Satu kisah yang saya baca dari Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah. Adalah Muhammad bin Sirin, ‘ulama besar murid Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, beliau yang berprofesi sebagai pedagang minyak mendapati bangkai tikus dalam minyak yang dibelinya dengan berhutang pada seorang tengkulak. Memang, bangkai tikus hanya ditemukan dalam satu kaleng dari empat puluh kaleng minyak yang ada. Namun Ibnu Sirin sudah merasa sangat berdosa jika tetap menjual ketiga puluh sembilan kaleng minyak pada kaum muslimin. Beliau khawatir karena seluruh minyak dalam kaleng itu berasal dari tempat penyulingan yang sama, sehingga satu bangkai pada satu kaleng minyak ditakutkan akan mencemari keseluruhan minyak. Akhirnya beliau membuang semua minyak itu, mengatakan yang benar pada calon pembeli dan tengkulak, tak peduli dengan segala konsekuensinya, yakni menanggung rugi sekaligus dipenjara karena tidak mampu melunasi hutangnya pada tengkulak.
Sungguh kisah nyata yang semakin menambah kepahitan hidup seorang yang jujur dan berkata benar. Contoh-contoh di atas tentang kejujuran, sudah membuktikan, betapa sulit hidup seorang yang jujur. Namun, seperti halnya dunia adalah “neraka” bagi orang-orang beriman, sementara ia adalah “surga” bagi para pembangkang,  kita tetap saja harus menerapkan kejujuran kapanpun, di manapun dan bersama siapapun. Jangan pernah tergiur untuk berdusta, meskipun ia sangat menggiurkan dan bisa menyelamatkan kita dari kesengsaraan. Ingatlah selalu, bahwa “kesengsaraan” yang kita kecap di dunia, akan berbuah manis di kehidupan nyata kita nanti, akhirat.
Berusahalah untuk menjunjung tinggi kejujuran, baik kepada Allah maupun kepada orang lain. Bayangkan, bohong sama orang lain aja dosanya sudah besar, apalagi berbohong pada Allah. Jujurlah dalam setiap raka’at shalat yang kita lakukan, apakah shalat Dhuhur kita sudah benar empat raka’at, atau masih tiga raka’at. Karena seburuk-buruk pencuri adalah “pencuri” shalat. Lalu, jangan pula kita berpura-pura merasa tidak batal saat sebenarnya kita telah batal shalat, misalnya kita (maaf) buang angin saat shalat. Allah nggak akan bisa dibohongi, teman-teman.
Mungkin selama ini kita berfikir, “Ah, orang ini juga nggak bakal tahu kalau aku bohongin.” Tapi Allah Maha Tahu. Setiap kebohongan tetap dicatat sebagai satu perbuatan dosa. Allah hanya mengizinkan hamba-Nya untuk berbohong dalam 3 hal, yakni:
1. Pembicaraan antara suami istri untuk keharmonisan rumah tangga
Misalnya: seorang suami memuji masakan istrinya yang sebenarnya tidak enak, tetapi demi tidak mengecewakan hati istri, suami terpaksa berbohong dan mengatakan masakan itu enak. Tetapi tetap nggak boleh lho, berlagak jadi suami setia padahal dia berselingkuh di belakang istrinya!
2. Kebohongan untuk mendamaikan dua pihak yang sedang berselisih
Misalnya: Rina sedang bertengkar dengan saudaranya, Rini, karena suatu hal, kemudian Sinta ingin menjadi pendamai di antara mereka berdua. Sinta boleh membohongi Rina dengan mengatakan Rini ingin berbaikan dengannya, demikian sebaliknya dia katakan pula pada Rini bahwa Rina ingin berbaikan dengannya. Kebohongan ini bertujuan agar Rina dan Rini kembali akrab seperti semula.
3. Kebohongan dalam peperangan melawan musuh
Kita saja dilarang memberitahukan strategi atau rahasia perang kita pada musuh, makanya itu membohongi musuh amat sangat dianjurkan bahkan diwajibkan.
Berkata benar atau jujur, walaupun berat, memiliki banyak manfaat. Tidak inginkah kita meniru Rasulullah Al Amin yang bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul pun sudah dikenal sebagai manusia yang paling terpercaya? Karena lisan beliau tak pernah sekalipun mengucapkan dusta. Bahkan candanya pun sebuah kebenaran. Alkisah ada seorang nenek menanyakan, “Ya Rasulallah, apakah aku akan masuk surga?” Baginda Rasul menjawab, “Di surga tidak ada nenek-nenek, Nek.” Nenek itu pun kecewa dan menangis yang kemudian dihibur oleh Rasul, “Memang di surga tidak ada nenek-nenek karena semua manusia yang masuk surga akan kembali menjadi muda.” Nenek itu pun tersenyum senang.
Selain dipercaya oleh orang lain, orang yang jujur juga selalu diliputi ketenangan dalam hidupnya. Tidak seperti para pendusta yang kerap menutup satu kebohongan dengan kebohongan lain. Ya, dusta adalah candu menyakitkan yang membuka pintu-pintu keburukan yang lebih besar. Bayangkan saja hidup seorang pejabat korup, yang selalu waswas kalau-kalau KPK mendatangi rumah atau kantornya. Atau siswa yang nggak tenang sepanjang ujian karena menyembunyikan catatan di laci mejanya.
Jujur, membuat nama pelakunya menjadi harum, meskipun dirinya telah tiada. Kejujuran yang kini semakin langka juga membuat banyak pihak bersimpati terhadap para pelakunya. Masih ingat kisah Ibu Siyami dan putranya bukan? Sepasang ibu-anak pengungkap kasus ketidakjujuran di sekolah yang malah dicibir dan mendapat pengucilan dari orang-orang di sekitarnya, tetapi kemudian memancing dukungan yang jauh lebih besar dibandingkan cibiran untuk mereka.
Namun yang jelas, niatkanlah jujur untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah, bukan untuk mendapatkan penghargaan sebagai orang yang jujur dari sesama manusia. Termasuk jujur pula jika apa yang kita ucapkan atau tuliskan sama dengan apa yang kita lakukan. Tidak seperti orang munafik yang antara perkataan dan perbuatan seringkali tidak sesuai. Jujur dalam segala hal – kecuali untuk hal-hal yang diperbolehkan berdusta – meskipun sulit, akan mengantar pelakunya kepada kebaikan yang berlipat-lipat.
“Berperangailah selalu dengan kejujuran. Bila engkau melihatnya (jujur) itu mencelakaakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.” (HR Ibnu Abi Ad Dunya dari riwayat Manshur bin Mu’tamir)
Pendapat diatas, bagi penganut paham kontekstual dijabarkan dan dikembangkan lebih jauh, sehingga setiap Hadis dicari konteksnya, apakah ia diucapkan/diperankan oleh manusia agung itu dalam kedudukan beliau sebagai : Rasul, dan karena itu pasti benar, sebab bersumber dari Allah swt.
            Hakim, yang memutuskan perkara. Dalam hal ini putusan tersebut walaupun secara formal pasti benar, namun secara material adakalanya keliru. Hal ini diakibatkan oleh kemampuan salah satu pihak yang bersengketa dalam menutupi kebenaran, sementara disisi lain keputusan ini hanya berlaku bagi pihak-pihak yang bersengketa. Pemimpin suatu masyarakat, yang menyesuaikan sikap, bimbingan dan petunjuknya dengan kondisi dan budaya masyarakat yang beliau temui. Dalam hal ini bimbingan dan sikap beliau pasti benar dan sesuai dengan masyarakat. Namun bagi masyarakat yang lain, mereka dapat mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam petunjuk dan bimbingnitu sesuai dengan kondisi masing-masing masyarakat.
           Orang jujur akan mendapat pertolongan dari Allah SWT. Salah satu contoh kejujuran adalah dalam hal perniagaan. Orang yang meminjam barang atau uang untuk dijadikan modal dalam suatu perniagaan dan secara jujur ia ingin mengembalikan modal tersebut, Allah SWT pasti akan membantunya. Sebaliknya, apabila ia berniat jahat dan tidak mau mengembalikannya, Allah SWT akan merusak harta dan kehidupannya didunia, serta memberinya azab kelak diakhirat


Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini

Rabu, 10 Juli 2013

Menentukan Waktu Shalat, Puasa dan Ibadah Lainnya di Daerah Kutub

Pertanyaan :

  • Bagaimana menentukan Waktu Sholat jika kita berada di daerah Kutub yang terkadang siang dan malam hanya datang sekali enam bulan
  • Apakah seorang yang berpuasa di daerah Kutub harus berpusa selama 20 jam karena lamanya siang di daerah Kutub adalah 20 jam
  • Apakah ada Fatwa atau Hadits dan Dalil mengenai Sholat dan Puasa di daerah Kutub? 

Jawab :
Sahabat pernah menanyakan kepada  Rasulullah SAW tentang kewajiban Shalat di daerah yang satu harinya menyamai satu minggu, sebulan, atau bahkan setahun.

     "Wahai Rasul, bagaimana dengan daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun, apakah cukup dengan sekali shalat saja". Rasul menjawab "tidak... tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)". 
(H.R. Muslim) 

Berdasarkan Hadits ini, maka Al-Azhar Al- Syarif mengeluarkan fatwa bahwa berkenaan dengan pelaksanaan Ibadah seperti puasa dan Sholat di daerah daerah yang waktu siang dan malamnya tidak teratur di laksanakan dengan cara menyesuaikan dengan daerah-daerah yang memiliki periode siang dan malamnya teratur disepanjang tahun. Sebagai contoh adalah Kota Mekkah Al Mukarromah yang memiliki waktu siang dan malam relatif sama sepanjang tahun.

Begitupun dengan daerah seperti Kutub Utara dan Selatan yang terkadang waktu siang dan malamnya hanya datang sekali enam bulan, maka dapat disesuaikan dengan waktu yang ada di Mekkah Al Mukarromah yang memiliki keteraturan waktu siang dan malam, dan fatwa ini disetujui oleh sebagian besar para Ulama. 

Inilah salah satu fatwa mengenai Ibadah Sholat, Puasa atau ibadah lainnya yang harus disesuaikan dengan perkiraan waktu yang dalilnya merujuk pada Hadits di atas.

Wallahu a'lam Bisshawab 



Ramadhan di Kutub

Kutub (ilustrasi)
Kutub merupakan daerah di belahan bumi Paling utara dan selatan dengan berbagai keunikan dan keindahan luar biasa, baik itu panorama alama, spesies-spesies penghuni bahkan kehidupan komunitas dan kelompok-kelompok manusia yang saat ini mulai berdiam diri di Kutub. Salah satu hal yang menarik dari komunitas-komunitas ini adalah ketika mereka harus melaksanakan ibadah ajaran agama mereka yang disesuaikan dengan peredaran dari Matahari dan Bulan.


Sebut saja misalnya komunitas-komunitas di Kutub yang beragama Islam, mereka harus melaksanakan ibadah-ibadah Wajib seperti puasa dan Sholat yang kadar ketentuan dalam ibadah ini membutuhkan tanda waktu. Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang dimulai dari terbitnya fajar sampai pada tenggelamnya Matahari. Untuk negara-negara seperti Arab Saudi, ataupun indonesia hal ini tidak menjadi masalah, karena peredaran matahari setiap tahunnya adalah teratur dengan perkiraan 12 jam siang dan 12 jam malam, dimana Ibadah Puasa rata-rata dilakukan selama 13 jam sehari.

Lalu bagaimana dengan Kutub?
Di Kutub peredaran matahari tidak memiliki keteraturan lama periode malam dan siang setiap harinya. terkadang malam dan siang hanya datang 1 hari selama enam bulan, atau pada kisaran Juni - Juli di kota Roveniemi (Finlandia) waktu malam hanya sekita 3 1/2 jam dan siang sekita 20 jam lebih. Hal ini tentu akan sangat memberatkan bagi Kaum Muslimin yang beribadah Puasa disana. 

Tidak hanya dikota ini, di daera lain seperti Alaska juga tentu akan mengalami hal serupa, lalu apa yang mereka lakukan?
Beberapa daerah menyesuaikan waktu ibadah mereka dengan daerah terdekat yang lebih teratur datangnya siang dan malam, seperti Turki. atau bahkan ada juga yang menyesuaikan dengan pusat Basis Islam seperti Arab Saudi, lalu bagaimana sebenarnya mengenai Fatwa para ulama dan dalil mengenai hal ini? 

Silahkan Klik link berikut!!  
Menentukan Waktu Shalat, Puasa dan Ibadah Lainnya di Kutub !!

 Wallahu a'lam Bisshawab 



Selasa, 09 Juli 2013

Keutamaan Puasa dan Ibadah Lainnya pada Hari ke 30 Ramadhan

Keutamaan pada Hari ke 30 Ramadhan:
Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian setiap hari sebelumnya pahala seribu suhada’ dan seribu orang yang benar; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian seperti beribadah lima puluh tahun; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian untuk setiap hari seperti puasa dua ribu hari, dan mengangkat derajat kalian
Sumber : Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, tentang keutamaan bulan Ramadhan secara detail dari hari ke hari.

Keutamaan Tarawih pada Malam ke 30 Ramadhan:
Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.
Sumber : Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Saidina Ali bin Abi Tholib ra. yang tertuang dalam kitab Durrotun Nashihin Hal : 18 19,


Sungguh informasi di dalam tulisan ini adalah saduran dari kitab-kitab Islami, dan berharap isinya benar adanya, karena sungguh Allah sematalah yang berhak menilai Ibadah kita, dan segala kesalahan dan kesilapan, Admin Mohon Maaf dan Sekaligus Mohon Ampun kepada Allah, dan admin berniat hanya untuk berbagi faedah Ramadhan kepada pengunjung blog ini

Wallahu a'lam Bisshawab 



Senin, 08 Juli 2013

Keutamaan Puasa dan Ibadah Lainnya pada Hari ke 29 Ramadhan

Keutamaan pada Hari ke 29 Ramadhan:
Allah Azza wa Jalla memberi kalian beribu-ribu kediaman dan di setiap kediaman terdapat menara putih, di setiap menara terdapat tempat tidur dari kafur putih dilengkapi dengan seribu permadani dari sutera hijau, di setiap permadani disiapkan bidadari yang dihiasi dengan tujuh puluh ribu hiasan, di kepalanya seribu hiasan dari permata
Sumber : Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, tentang keutamaan bulan Ramadhan secara detail dari hari ke hari

Keutamaan Tarawih pada Malam ke 29 Ramadhan:
Allah SWT memberikan pahala seribu (1000) haji yang makbul.
Sumber : Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Saidina Ali bin Abi Tholib ra. yang tertuang dalam kitab Durrotun Nashihin Hal : 18 19,



Sungguh informasi di dalam tulisan ini adalah saduran dari kitab-kitab Islami, dan berharap isinya benar adanya, karena sungguh Allah sematalah yang berhak menilai Ibadah kita, dan segala kesalahan dan kesilapan, Admin Mohon Maaf dan Sekaligus Mohon Ampun kepada Allah, dan admin berniat hanya untuk berbagi faedah Ramadhan kepada pengunjung blog ini

Wallahu a'lam Bisshawab 



Minggu, 07 Juli 2013

Keutamaan Puasa dan Ibadah Lainnya pada Hari ke 28 Ramadhan

Keutamaan pada Hari ke 28 Ramadhan:
Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian di surga Al-Khuld seratus ribu kota dari cahaya, memberi kalian di surga Al-Ma’wa seratus ribu istana dari perak; memberi kalian di surga Al-Jalal tiga ratus ribu mimbar (tempat yang tinggi) yang terbuat dari misik, di setiap mimbar seribu rumah dari za’faran
Sumber : Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, tentang keutamaan bulan Ramadhan secara detail dari hari ke hari.

Keutamaan Tarawih pada Malam ke 28 Ramadhan: 
Allah SWT mengangkat baginya seribu (1000) derajat di surga.
Sumber : Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Saidina Ali bin Abi Tholib ra. yang tertuang dalam kitab Durrotun Nashihin Hal : 18 19


Sungguh informasi di dalam tulisan ini adalah saduran dari kitab-kitab Islami, dan berharap isinya benar adanya, karena sungguh Allah sematalah yang berhak menilai Ibadah kita, dan segala kesalahan dan kesilapan, Admin Mohon Maaf dan Sekaligus Mohon Ampun kepada Allah, dan admin berniat hanya untuk berbagi faedah Ramadhan kepada pengunjung blog ini

Wallahu a'lam Bisshawab 



Sabtu, 06 Juli 2013

Keutamaan Puasa dan Ibadah Lainnya pada Hari ke 27 Ramadhan

Keutamaan pada Hari ke 27 Ramadhan:
kalian seperti menolong setiap mukmin dan mukminah, memberi pakaian pada tujuh puluh ribu orang yang telanjang, membantu seribu orang yang menjalin tali persaudaraan; kalian seperti membaca semua kitab yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada para Nabi-Nya
Sumber : Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, tentang keutamaan bulan Ramadhan secara detail dari hari ke hari

Keutamaan Tarawih pada Malam ke 27 Ramadhan:
Ia akan melewati jembatan Shirotul Mustaqim pada hari kiamat kelak seperti kilat menyambar
Sumber : Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Saidina Ali bin Abi Tholib ra. yang tertuang dalam kitab Durrotun Nashihin Hal : 18 19

Sungguh informasi di dalam tulisan ini adalah saduran dari kitab-kitab Islami, dan berharap isinya benar adanya, karena sungguh Allah sematalah yang berhak menilai Ibadah kita, dan segala kesalahan dan kesilapan, Admin Mohon Maaf dan Sekaligus Mohon Ampun kepada Allah, dan admin berniat hanya untuk berbagi faedah Ramadhan kepada pengunjung blog ini

Wallahu a'lam Bisshawab 


 Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Jumat, 05 Juli 2013

Keutamaan Puasa dan Ibadah Lainnya pada Hari ke 26 Ramadhan

Keutamaan pada Hari ke 26 Ramadhan:
Allah swt memandang kalian dengan kasih sayang-Nya, kemudian mengampuni semua dosa kalian kecuali sogokan dan hartanya; Allah swt mensucikan rumah kalian setiap hari tujuh puluh ribu kali dari ghibah dan dusta.
Sumber : Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, tentang keutamaan bulan Ramadhan secara detail dari hari ke hari

Keutamaan Tarawih pada Malam ke 26 Ramadhan:
Allah SWT mengangkatnya baginya pahala empat puluh tahun (40 thn).
Sumber : Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Saidina Ali bin Abi Tholib ra. yang tertuang dalam kitab Durrotun Nashihin Hal : 18 19,

Sungguh informasi di dalam tulisan ini adalah saduran dari kitab-kitab Islami, dan berharap isinya benar adanya, karena sungguh Allah sematalah yang berhak menilai Ibadah kita, dan segala kesalahan dan kesilapan, Admin Mohon Maaf dan Sekaligus Mohon Ampun kepada Allah, dan admin berniat hanya untuk berbagi faedah Ramadhan kepada pengunjung blog ini

Wallahu a'lam Bisshawab