Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2013

Syarat Pembangunan Ruangan Laboratorium/ Konstruksi Ruang Bersih Laboratorium



Senin, 01 Juli 2013

Mikroba Penyebab Infeksi pada Sistem Gastrointestinal (Pencernaan)

Helicobacter Pylori
Merupakan bakteri gram negative, berbentuk spiral dan bersifat motile,berkolonisasi pada lambung dan usus halus. Contoh lainnya pada manusia: H.cinaedi, H.fennelliae, H.canadensis. Bakteri ini berkaitan dengan beberapa penyakit seperti gastritis, peptic ulcer, gastric adenocarcinoma, gastric MALT B-cell lymphomas, proctitis, proctocolitis, dan enteritis. Mikroba ini dapat berkolonisasi dengan memiliki kemampuan untuk menetralisasi asam lambung dengan menghasilkan ammonia oleh aktivitas uresae bakteri, yang kerjanya dapat diperkuat dengan adanya Heat shock protein (HspB). Kerusakan jaringan yang bersifat local dapat disebabkan oleh produk-produk dari urease seperti mucinase, phospholipases, vacuolating cytotoxin. Selain itu, bakteri ini dapat menghindar dan melindungi diri dari fagositosis dan penghancur intraseluler dengan menghasilkan superoxide dismutase dan catalase. 
Dapat didiagnosis melalui: 
  • Mikroskopik, menggunakan specimen dari biopsy gastric dengan endoskopi, dan pewarnaan gram, hematoxylin-eosin, Warthin-Starry silver
  • Tes urease, menggunakan specimen dari biopsy gastric, dan deteksi alkali
  • Kultur specimen biopsy gastric
  • Serologi (polyclonal enzyme immunoassay), dan antibody melalui ELISA 

Gejala-Gejala
Untuk Gastritis dan Tukak lambung, kemungkinan gejalanya mirip yaitu sakit nyeri dibagian lambung, sering bersendawa, nyeri di ulu hati, nafsu makan menurun, perut terasa kembung, susah untuk kentut, mual, nafas sesak, mulut kering atau malahan produksi liur berlebih, badan lemas dan rasa cemas yang berlebih.

Kalau untuk GERD, biasanya gejala2 yg diatas ditambah dengan rasa panas di dada atau yg lebih sering disebut HeartBurn, mulut terasa pahit atau asam, pusing dan rasa nyeri pada bagian punggung.

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Minggu, 30 Juni 2013

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Infeksi Gastrointestinal (Pencernaan)

Faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan gangguan gastrointestinal oleh mikroba adalah:
1. Faktor Host
·         Species, genotip, usia (anak bayi sistem imunnya belum berfungsi dengan baik sehingga lebih rentan terinfeksi)
·         Kebersihan diri 
·         Keasaman lambung pH dan barier fisik seperti integritas mukosa dan mucus. (asam lambung mampu membunuh mikroba yang masuk)
·         Motilitas usus, yang menentukan distribusi mikroflora
·         Mikroflora sebagai flora normal 
·         Imunitas intestinal, termasuk IgA yang menghambat attachment mikroba pada sel epitel (tidak membunuh)
·         Faktor protektif lainnya seperti lactoferin dan lisozim (pada mulut, membunuh bakteri dengan menghancurkan dinding selnya)

2.  Faktor Mikroba 
Selain faktor host, jenis mikroba sendiri mempengaruhi kemungkinan munculnya penyakit hingga berat-ringannya suatu penyakit. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain:
a. Toxin
Toksin atau racun yang dimiliki mikroba seperti neurotoxins pada botulinum, staphylococcal superantigen toxin, enterotoxins pada ETEC, V.cholerae dan cytotoxins pada Shiga toxin, C.difficile
b. Attachment
Yakni kemampuan mikroba untuk menempel dan berkolonisasi pada mukosa, walaupun tidak semua mikroba mikroba menggunakan attachment ini 
c. Invasi
Yaitu kemampuan mikroba untuk masuk ke dalam sel host.

Pada prinsipnya patogen atau toxin dari pathogen masuk ke dalam saluran gastrointestinal dapat melalui berbagai macam jalur seperti makanan, cairan ataupun jari-jari yang tercemari oleh feces manusia atau hewan yang mengandung pathogen atau toxinnya, yang kemudian masuk ke saluran gastrointestinal mencapai usus. 
Di usus mikroba dapat memperbanyak diri dan memproduksi toksin atau racun di saluran cerna sehingga menyebabkan diare. Jalur lain adalah mikroba / toxin dari mikroba masuk dan menyebar melalui peredaran darah sehingga menyebabkan gejala infeksi sistemik seperti demam, nafsu makan berkurang, dll. Hingga akhirnya patogen diekskresikan melalui feces (dapat juga melalui diare yg kita keluarkan).
Berbagai kerusakan yang dapat terjadi akibat infeksi mikroba pada sistem pencernaan di antaranya: 

  • Aksi dari toxin bakteri mengakibatkan infeksi lokal atau menyebar menuju bagian tubuh yang jauh melalui peredaran darah atau sitem limfatik. Hal ini menyebabkan terjadinya proses radang di organ setempat dan atau melibatkan organ lainnya.
  • Perforasi (luka) pada epitel mukosa setelah infeksi, operasi, atau trauma tertentu. 

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Sabtu, 29 Juni 2013

Gambaran Infeksi Pada Sistem Gastrointestinal

  1.        Gastroenteritis adalah sindrom yang ditandai dengan gejala seperti, mual, muntah, diare dan rasa tidak nyaman pada perut
  2.        Diare adalah buang air besar berbentuk cair. Penyakit ini umumnya berasal dari gangguan usus halus
  3.        Disentri adalah radang pada sistem gastrointestinal yang sering dihubungkan dengan adanya darah ataupun pus (nanah) pada feces dan disertai gejala seperti nyeri, demam, kram perut, biasanya disebabkan oleh penyakit yang terjadi di usus besar 
  4.        Enterocolitis adalah inflamasi (radang) yang melibatkan mukosa baik pada usus besar maupun usus halus

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Jumat, 28 Juni 2013

Virus/ Kuman Penyebab Diare

Ilustrasi
Kuman penyakit diare adalah Shigella sp., Salmonella sp., Campylobacter sp., Escherchia sp., Clostridium sp., Yersinia sp., dan Staphylococcus sp. Kuman-kuman tersebut menghasilkan toksin dan menjadi produk inflamasi yang memacu peradangan usus.
Sebaliknya, diare karena proses noninflamasi (bukan karena peradangan), volume diare biasanya banyak, cair, tanpa darah maupun pus/nanah. Diarenya disebabkan oleh gangguan di usus halus. Mekanisme kejadian diare karena sekresi yang berlebihan dari dinding usus halus akibat pacuan enterotoksin (zat racun dari kuman penyebab). Namun, tidak ada proses peradangan. Kuman yang sering menjadi penyebab diare non inflamasi adalah Rotavirus, Adenovirus, Norwalk-like virus (NLV), Cryptosporidia, dan Giardia.

Infeksi yang menyerang saluran pencernaan hampir selalu dijumpai oleh dokter dalam praktik sehari-hari. Infeksi ini ditandai dengan timbulnya diare dengan onset yang akut (serangan datang tiba-tiba) yang kadang disertai atau tanpa rasa nyeri di perut, dan muntah.

 Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Kamis, 27 Juni 2013

Pengertian Infeksi Saluran Gastrointestinal (Saluran Cerna)

Ilustrasi
Infeksi saluran cerna adalah infeksi yang Sebagian besar disebabkan oleh virus dan sebagian lagi disebabkan oleh bakteri atau organisme lain pada saluran pencernaan. Infeksi ini lebih umum terjadi di seluruh dunia yang menyebabkan morbiditas dan mortilitas. Pada negara berkembang dan negara maju, gastroenteritis akut meliputi diare adalah penyebab utama mortilitas pada bayi dan anak kecil umur >5tahun. Dalam praktik klinis, sangat perlu untuk membedakan antara diare yang disebabkan inflamasi (peradangan) dan diare yang disebabkan noninflamasi. Sebab, penanganan dan pemilihan obatnya berbeda.
   Diare karena inflamasi dapat dilihat dari karakter tinja. Biasanya volumenya sedikit, mengandung darah dan pus (seperti nanah), ini bisa kita lihat dengan mata telanjang atau dengan pemeriksaan mikroskop. Diare itu disebabkan peradangan di lapisan dalam (mukosa) usus halus dan usus besar. Akibatnya, volume cairan di rongga usus meningkat dan terjadilah diare (berak cair dengan frekuensi yang meningkat).
Diare karena inflamasi bisa juga disebabkan oleh efek sekretagog (efek peningkatan sekresi cairan dari usus)  akibat produk inflamasi yang diakibatkan oleh peradangan di usus. 


Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Rabu, 26 Juni 2013

Infeksi Saluran Gastrointestinal / Saluran Cerna (Bakteriologi)

Ilustrasi 
Infeksi ini merupakan penyakit yang berkutat di saluran pencernaan yang gejala awalnya merupakan pendarahan.  Mual muntah adalah gejala utama lain penyakit gastrointestinal, muntah biasanya didahului dengan mual, yang dapat dicetuskan oleh bau, aktivitas, atau masukan makanan. Muntah dapat bervariasi isi dan warnanya. Muntah dapat berisi partikel makanan yang tidak tercerna atau darah (hematemesis). Bila ini terjadi segera setelah perdarahan, muntah berwarna merah terang. Bila darah tertahan dalam lambung, akan berubah menjadi warna kopi karena kerja enzim pencernaan.
Kesulitan menelan terjadi baik pada bentuk makanan padat maupun cairan, terutama bila terjadi refluks nasal, berarti adanya kelainan saraf (neuromuscular disorder). Kesulitan meneruskan makanan dari mulut kedalam lambung biasanya disebabkan oleh kelainan dalam tenggorokan biasanya infeksi atau tumor di oropharynx, larynx, spasme dari oto cricopharynx. Rasa terhentinya makanan didaerah retrosternal setelah menelan makanan, biasanya disebabkan kelainan dalam esofagus sendiri, yaitu timbulnya regurgitasi, refluks asam, rasa nyeri didada yang intermiten, misalnya pada akhalasia, karsinoma esofagus, spasme yang difus pada esofagus. 
Penderita Gangguan Gastrointestinal yang hebat biasanya diberi makanan yang khusus guna mengimbangi cairan dan zat gizi yang hilang. Salah satu cara khusus untuk memberikan makan kepada orang sakit dalam keadaan seperti ini adalah pemberian makanan dengan menggunakan NGT. Komposisi makanan dapat dibagi menjadi enam kali pemberian. Pada penderita penyakit saluran pencernaan yang baru selasai operasi, pemberian makanan cair juga bertujuan menunjang tindakan operasi yang diperlukan.
Adapun hal -hal yang perlu diketahui pada Penyakit ini antara lain :



Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Disusun Oleh : Metri D R

Achmad IA, dkk. Guidelines Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan Genetalia Pria. Jakarta. 2007.
                        
Tessy A, Ardayo, Suwanto. Infeksi salauran kemih dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001

https://www.makalah++INFEKSI+SALURAN+GASTROINTESTINAL&oq=makalah++INFEKSI+SALURAN+GASTROINTESTINAL.co.id

http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010691258/gastro-intestinal-health-mania-gihm-indonesia-khusus-sharing-masalah-lambung


Minggu, 10 Juni 2012

Prognosis Dakriosistitis


Pengobatan dakriosistitis dengan antibiotik biasanya dapat memberikan kesembuhan pada infeksi akut. Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika namun masih berpotensi terjadi kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis tidak ditangani secara tepat, sehingga prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan tetapi, jika dilakukan pembedahan baik itu dengan dakriosistorinostomi eksternal atau dakriosistorinostomi internal, kekambuhan sangat jarang terjadi sehingga prognosisnya dubia ad bonam. Jika stenosis menetap lebih dari 6 bulan maka diindikasikan pelebaran duktus dengan probe. Satu kali tindakan efektif pada 75% kasus.



Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Pencegahan Dakriosistitis


Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan higienitas pada palpebra ,termasuk melakukan kompres air hangat dan membersihkan silia. Selain itu, higienitas nasal dengan spray salin dapat mencegah obstruksi aliran lakrimal bagian distal.



Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Komplikasi Dakriosistitis


Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terjadi abses kelopak mata, ulkus, bahkan selulitis orbita (Mardiana & Roza, 2011). Komplikasi pada dakriosistitis lebih kepada komplikasi terapi bedah. Dakriosistorinostomi bila dilakukan dengan baik merupakan prosedur yang cukup aman dan efektif. Namun, seperti pada semua prosedur pembedahan, komplikasi berat dapat terjadi. Perdarahan merupakan komplikasi tersering dan dilaporkan terjadi pada 3% pasien. Selain itu, infeksi juga merupakan komplikasi serius dakriosistorinostomi. Beberapa ahli menyarankan pemberian antibiotic drop spray pada hidung setelah pembedahan. Kegagalan dakriosistorinostomi paling sering disebabkan oleh osteotomi atau penutupan fibrosa pada pembedahan ostium yang tidak adekuat. Kebanyakan kasus kemudian diterapi dengan dilatasi ostium menggunakan probing Bowman berturut-turut. Kompliksi lainnya meliputi nyeri transient pada segmen superior os.maxilla, hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik pascaoperasi yang tampak jelas 


Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Penatalaksanaan Dakriosistitis


Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan masase kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotik amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis dan dapat pula diberikan  antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin 0,5% atau azithromycin 1%) atau menggunakan sulfonamid 4-5 kali sehari.
Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup sering. Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap 6 jam) juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa. Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral (acetaminofen atau ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian antibiotik secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam. Bila terjadi abses dapat dilakukan insisi dan drainase.
Dakriosistitis kronis pada orang dewasa dapat diterapi dengan cara melakukan irigasi dengan antibiotik. Sumbatan duktus nasolakrimal dapat diperbaiki dengan cara pembedahan jika sudah tidak radang lagi. Penatalaksaan dakriosistitis dapat juga dilakukan dengan pembedahan, yang  bertujuan untuk mengurangi angka rekurensi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis adalah dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara sistem drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass  pada kantung air mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah eksternal dengan pendekatan melalui kulit di dekat pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter telah menggunakan teknik endonasal dengan menggunakan scalpel bergagang panjang atau laser  (Sowka et al, 2010).
Dakriosistorinostomi internal memiliki beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun keuntungannya yaitu, (1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi dilakukan tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2) lebih sedikit gangguan pada fungsi pompa lakrimal, karena operasi merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa membuat sistem drainase bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-rata hanya 12,5 menit).



Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Diagnosis Banding Dakriosistitis


a. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar intraorbita di belakang septum orbita. Selulitis orbita akan memberikan gejala demam, mata merah, kelopak sangat edema dan kemotik, mata proptosis, atau eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan tajam penglihatan menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada retina terlihat tanda stasis pembuluh vena dengan edema papil.

b.    Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan. Hordeolum eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak (Mardiana & Roza, 2011).



Diagnosis Dakriosistitis


Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan dengan cara autoanamnesis dan heteroanamnesis, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Bila anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum bisa dipastikan penyakitnya, maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang (Mardiana & Roza, 2010).
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang digunakan untuk memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis adalah dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan John’s dye test. Ketiga pemeriksaan ini menggunakan zat warna fluorescein 2% sebagai indikator. Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat digunakan probing test dan anel test (Mardiana & Roza, 2011).



Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Dakriosistitis Kongenital


Bentuk khas dari peradangan pada kantong air mata adalah dakriosistitis  kongenital, yang secara patofisiologi sangat erat kaitannya dengan embriogenesis sistem eksresi lakrimal. Dakriosistitis sering timbul pada bayi yang disebabkan karena duktus lakrimalis belum berkembang dengan baik. Pada orang dewasa infeksi dapat berasal dari luka atau peradangan pada hidung. Meskipun demikian, pada kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan selulitis orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. Dakriosistitis kongenital dapat berhubungan dengan amniotocele, di mana pada kasus yang berat dapat menyebabkan obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang indolen sangat sulit didiagnosis dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi kronis, ambliopia, dan kegagalan perkembangan (Mardiana & Roza, 2011)


Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Dakriosistitis Kronis


Pada keadaan menahun, tidak terdapat rasa nyeri, tanda-tanda radang ringan, biasanya gejala berupa mata yang sering berair, yang bertambah bila mata kena angin. Bila kantung air mata ditekan dapat keluar secret yang mukoid (Ilyas et al, 2008). Infeksi pada dakriosistitis dapat menyebar ke anterior orbita dengan gejala edema palpebra atau dapat berkembang menjadi selulitis preseptal.
Studi pada pasien daksriosistitis kronis didiagnosa berdasarkan tanda dan gejala meliputi epifora dengan atau tanpa massa dan regurgitasi mukoid atau cairan mukopurulent pada penekanan di daerah sakus atau pada saluran di kanalis lakrimalis (Nigam et al, 2008).



Gambaran Klinis Dakriosistitis


Gambaran klinis dakriosistitis secara umum berupa nyeri fokal, kemerahan dan bengkak pada mata daerah kelopak mata bawah bagian nasal. Dalam beberapa kasus nyeri dapat menyebar sampai hidung dn gigi, epifora dan okular discharge juga sering dilaporkan,
Pada pemeriksaan ditemukan pembengkakan disekitar sakus lakrimalis dan discharge dapat keluar dari pungktum inferior ketika ditekan, kondisi ini dapat rekuren dan menjadi berat berhubungan dengan demam (Sowka et al, 2010).
  1. Dakriosistitis Akut  >> Klik menuju halaman yang diinginkan.
  2. Dakriosistitis Kronis   >> Klik menuju halaman yang diinginkan.
  3. Dakriosistitis Kongenital   >> Klik menuju halaman yang diinginkan.

Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Patofisiologi Dakriosistitis


Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak biasanya akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.
Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan penumpukan air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang merupakan media pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Ada 3 tahapan terbentuknya sekret pada dakriosistitis. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan pemijatan pada sakus lakrimalis. Tahapan-tahapan tersebut antara lain:
  • Tahap obstruksi
Pada tahap ini, baru saja terjadi obstruksi pada sakus lakrimalis, sehingga yang keluar hanyalah air mata yang berlebihan.

  • Tahap Infeksi
Pada tahap ini, yang keluar adalah cairan yang bersifat mukus, mukopurulen, atau purulent tergantung pada organisme penyebabnya.
  • Tahap Sikatrik
Pada tahap ini sudah tidak ada regurgitasi air mata maupun pus lagi. Hal ini dikarenakan sekret yang terbentuk tertahan di dalam sakus sehingga membentuk suatu kista (Mardiana & Roza, 2011).




Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini


Etiologi Dakriosistitis


Dakriosistitis terjadi karena obstruksi duktus nasolakrimal. Obstruksi bisa disebabkan oleh stenosis inflamasi idiopatik (primary acquired nasolacrimal duct obstruction) atau sebab sekunder akibat dari trauma, infeksi, inflamasi, neoplasma, atau obstruksi mekanik (primary acquired nasolacrimal duct obstruction) (Bharathi, et al 2007).
Obstruksi duktus nasolakrimalis menyebabkan penyumbatan aliran air mata yang berhubungan dengan system drainase air mata yang mengakibatkan dakriosistitis. Dakriosistitis akut biasanya sering disebabkan oleh bakteri kokus gram negatif, sedangkan dakriosistitis kronik disebabkan  oleh campuran; bakteri gram negatif maupun positif. Bakteri yang sering ditemukan umumnya didominasi oleh streptokokus pneumonia dan stapilokokus Sp. Infeksi jamur biasanya oleh candida albikan dan aspergillus Sp, biasanya infeksi akibat jamur jarang ditemukan (Bharathi, et al 2007).
Literatur lain menyebutkan bahwa dakriosistitis akut pada anak-anak sering disebabkan oleh Haemophylus influenzae, sedangkan pada orang dewasa sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus β-haemolyticus. (Ilyas, 2008).





Kembali Ke Halaman Utama Dakriosistitis dan Penjelasan Lengkap

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini