Minggu, 12 Februari 2012

Makna Titik Ba dan Hakikat Eksistensi Manusia


Bismillaahirrohmanirrohiim...

Semoga Allah Mengampuni hamba terhadap setiap isi dari tulisan ini dan semoga memiliki manfaat,
Malam ketika sms itu masuk tidak aku jawab karena jujur aku bingung hendak menjawab dengan apa, lalu kembali anda tanyakan melalui pesan facebook, inilah bunyi pertanyaan itu :
 “Mengapa ze sepertinya enggan mengejar dunia, bukankah dengan meraih dunia akan lebih mudah meraih akhirat?”
Lalu aku jawab dengan,
“Begini saja, coba carilah referensi mengenai makna titik ba pada awal huruf  Basmalah”.
Maka dengan permintaan maaf, aku sampaikan semoga ada kebaikan dari tulisan ini
Mengapa aku menganjurkan dengan titik ba pada awal huruf  Basmalah?

Bukan hanya sekedar makna dan faedah Bismillah ( huruf  “ba”, “Sin”,”mim”, “Alif”, “Lam”, dan “ha” ==> Memiliki makna pembahasan tersendiri dari tiap huruf pada kalimat Bismi dan Kalimat Allahi, kita batasi cukup pada titik “ba” saja) yang luar biasa semisal, dalam riwayat berikut :
Ketika Allah Swt me-wahyu-kan Bismillah kepada Nabi Adam as, Nabi Adam bertanya pada malaikat Jibril, Ya Jibril nama apa ini ?, mengapa Allah mengawali wahyu Nya dengan nama ini ?, jawab Jibril, Ya Adam, ini adalah sebuah nama yang mengiringi dalam menciptakan langit dan bumi, nama yang mengiringi dalam menciptakan air yang mengalir, nama yang mengiringi dalam menciptakan gunung menjulang tinggi dan menetapkan bumi, serta nama yang mengiringi dalam menguatkan kemanfaatan semua makhluk bagi yang lainnya.
Dan banyak keutamaan lain, yang memiliki hikmah luar biasa

Marilah kita mulai dengan awal penciptaan manusia sebagai inti dari kelak bagaimana perlakuan manusia,

Huruf Ba adalah huruf merupakan huruf pertama kali yang diucapkan ruh manusia ketika berada di alam arwah, yaitu ketika Sang Khalik bertanya kepada para arwah: “Apakah Aku adalah Tuhanmu?”, lalu di jawablah oleh para arwah, “Balaa”, atau Betul, dan inilah penandaan penciptaan dari sebuah manusia menuju perjalanannya dikemudian, baik ia yang hanya sampai di alam rahim maupun sampai di alam dunia.

Hikmah :
Balaa, di awali dengan huruf “ba”, yang pada saat itu semua arwah tunduk menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta dengan kepasrahan yang sebenar-benar pasrah, mereka mengakui dan memastikan bahwa merekalah ciptaan dan Allahlah Pencipta, dan ini menegaskan ada kepasrahan tertinggi pada huruf ba, jadi tidaklah layak menyombongkan diri didunia dengan apapun baik Ilmu, Harta, Jabatan, Keturunan, Rupa dan lainnya di dunia jika di alam arwah kita sudah perada pada kumpulan kepasrahan tertinggi pada Allah.

Lanjut?? Katakan ya jika memang berkenan,

Sekarang mari kita beralih ke dunia Bismillah, seperti yang diutarakan pada bagian atas bahwa Bismillah bukan sekedar kumpulan huruf sederhana yang di baca ketika memulai setiap perbuatan tetapi ia memiliki makna bahkan pada setiap hurufnya, bermanfaatlah jika kita menyimak hadits berikut :
Imam Al-Qodli Iyad menuturkan sebuah hadits dalam kitab “Matan Asy-Syifa Fi Syarfil Musthofa” :
 “Rosulullah Saw memanggil seorang penulis dan berkata ; “Hai penulis tuangkan tintanya, gerakkan penanya, tuliskan huruf  Ba denga rapi, tuliskan huruf Sin dengan nyata geriginya, tuliskan huruf Mim dengan lubangnya, tuliskan lafadz Allah dengan jelas dan tulis pula dengan baik lafadz Ar-Rohman dan Ar-Rohiimya, karena seseorang dari kaum Bani Israil setelah menulis Bismillah dengan baik seperti demikian maka dia di ampunkan dosa-dosanya”.

Selanjutnya haruslah kita pahami apa sebenarnya eksistensi kita sebagai manusia?
lingkaran eksistensi manusia muncul pertama kali dengan bismi, yang diawali oleh Adam yang menerima “nama-nama segala hal” dari Allah, ar-Rahman, dan diakhiri oleh ar-Rahim, yang dengan Asma ini Muhammad menyatukan kembali hal-hal yang “dipisahkan” oleh bismi. Tauhid Rasulullah adalah menyatukan kembali signifikansi Tauhid, tanzih-tasybih, rahasia dari makna “Dia-lah Yang Mahaawal dan Mahaakhir, Yang Mahazahir dan Mahabatin” (Q.S. 57:3). Namun, di sisi lain, dalam konteks azali (sebelum ada alam), segala sesuatu berasal dari Muhammad yang, menurut salah satu riwayat hadis, diciptakan “2000 tahun sebelum penciptaan Adam” (bagian ini khusus dalam penjabaran mengenai Nur Muhammad silahkan teman-teman dapat bertanya kepada yang paham apa itu Nur Muhammad). Dengan demikian “yang akhir” kembali ke “yang awal,” dan lingkaran tujuan penciptaan semesta pun telah paripurna: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Dan dari semua perilaku akan kesimpulan ahli tafsir maka inilah yang disampaikan mereka :
Makna-makna yang terkandung dalam setiap kitab suci semuanya dirangkum dalam Al-Qur’an, makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dirangkum semuanya dalam surat Al-Fatihah dan makna-makna yang terkandung dalam surat Al-Fatihah dirangkum dalam kalimat Bismillah.
Makna-makna yang terkandung dalam kalimat Bismillah dirangkum dalam huruf Ba nya, makna yang terkandung dalam huruf Ba adalah “Oleh-Ku telah terjadi sesuatu yang telah terjadi dan oleh-Ku akan terjadi sesuatu yang akan terjadi

Sebagian Ulama menambahkan, makna yang terkandung dalam huruf “Ba” di rangkum lagi dalam titik pada huruf “Ba”  dan titik itu satu, menunjukan bahwa Allah Swt adalah satu, tidak ada bilangannya.
Maka sampailah kita ketitik “ba” itu sendiri, setelah ini, akan ada penjabaran yang gambarannya bisa berbeda dari setiap orang yang menerangkan, karena memiliki gambaran yang indah dari setiap orang, dan dari saya yang hina ini, berikutlah yang mampu saya gambarkan mengenai penjabarannya, semoga Allah Mengampuni saya akan penjabaran selanjutnya karena kebodohan dan keburukan sifat saya yang telah menyampaikan ini.

Pada hakikatnya, pada tahap tertentu, setiap surat bahkan huruf pada Al Qur’an memiliki wujud (penjabaran wujud ada 4 macam) dan begitupun titik “ba”, dan dalam riwayat inilah yang disampaikan Ali ibn Thalib mengenai titik itu : Anaa nuqtatu ba–i bismillah (Aku adalah titik huruf ba’ dalam bismillah).

Hikmah : Para ahli ilmu mukasyafah mengatakan seseorang tidak akan pernah sampai kepada Allah jika tidak mengenali makna titik ba itu) dan Al Ghazali telah menjelaskan pemahamannya

Titik itu adalah tunggal yang menunjukkan ketunggalan Allah yang kita manusia harus patuh dan tunduk pada ketunggalan itu  yang  padanya (dalam ilmu zahir pernafasan para ahli tirakat mereka mengatakan letak tumpuan titik “ba’ berada pada pusar pada misteri pernafasan daim, out of the body experient sebenarnya bertumpu pada titik ba' (batin) yaitu pada pusar)  terdapat dunia dan akhirat hidup dan diri kita, dunia dan akhirat itu kuncinya pada titik “ba”, nafas menjadi tanafas, menjadi anfas lalu jadi nufus,  nah disitulah letak titik ba, tak seorangpun dapat menembusnya melainkan dengan sultan(kekuatan) sehingga ia oaham bagaimana ia bersikap terhadap dunianya dan bagaimana pula terhadap akhiratnya, titik ba' itu kunci dari semuanya.

Nah, sampailah kita kepada pemahaman dunia,
Begini, dalam penjabarannya dunia dan akhirat itu juga berada dalam titik “ba” yang semuanya terkumpul dalam bentuk noktah yang utuh, bulat, tidak terpecah, dunia itulah akhiratmu dan akhiratmu itulah duniamu, inilah makna keseimbangan dunia dan akhirat, bukan memisahkan dunia itu dengan akhirat, seperti aku bekerja 2 triliun untuk mampu bersedekah, disini sedekah dan 2 triliun adalah terpisah, seandainya kita sebelum mendapat uang, jangankan 2 triliun, lima puluh rupiah saja kita sudah diambil nyawanya, maka tidaklah terwujud yang satu sedekah, tetapi tidak usah berpayah hati, karena niat saja bersedekah Allah sudah menghitungnya, hanya saja dalam sifat pembacaan banyak manusia dengan menjual ayat-ayat Allah dengan murah seperti melazimkan keinginan sedekah, tetapi dalam akal dan hatinya ada terbersit keindahan dari sombong bahwa dengan ini aku akan memiliki rumah atau mobil yang mewah sehingga aku dapat berjalan di muka bumi dengan tegak berdiri tanpa harus malu kepada orang lain yang lebih punya, dan sekali-kali ini bukan makna dari akidah untuk mempertahankan diri di dunia tetapi ini adalah bermegah-megahan. Wallau a’lam.

(Terkhusus untuk penanya, jadi bukanlah aku enggan memikirkan dunia, bahkan bisa jadi keserakahanku terhadap dunia lebih besar daripada anda, tetapi jika ditanya tentang pemahaman inilah dia)
Lanjutkah ? Semoga berkenan,
Selanjutnya akan saya coba bahas contoh lain mengenai hal yang sangat dekat dengan keseimbangan dunia dan akhirat tetapi menjerumuskan, semoga berkenan, dan sekali lagi saya belum bisa sepenuhnya berjauh diri dari ini. Mohonkanlah Ampunan bagi saya.

Pernikahan?
Merupakan salah satu pelengkap akhirat yang jujur saja dinikmati dunianya sebagai makhluk naluriah,
Yang menjadi penjerumusan kebanyakan adalah pada saat pencarian jodoh itu, Dihalalkan untuk ta’aruf atau saling mengenal tetapi mengenal yang bagaimanakah? Inilah pemahaman saya.
Memang betul tidak ada proses pacaran dan langsung melamar adalah salah satu proses dari ta’aruf itu, tetapi kebanyakan sebelum lamaran itu tiba banyak yang memang langsung mendatangi orang tua si calon tetapi apa yang ada di balik itu?

Jika dulu ada surat, dan tergantung waktu sekarang begitu mudahnya tanpa waktu yang lama dengan sms atau facebook, ketika pria dan wanita dalam konteksnya berkenalan di Facebook atau sms, apa yang dibahas?

Apakah sang pria mengatakan langsung, aku akan melamarmu, atau jika belum menikah 1 bulan lagi aku akan melamarmu, atau apakah kamu berkenan menjadi calonku, lalu sekarang kita simak  psikologis wanita yang secara langsung dinyatakan perkataan itu, dipastikan hatinya akan berdegup kencang atau mungkin sesak dadanya, lalu inikah yang dinamakan ta’aruf sebagai penyeimbang dunia dan akhirat itu?

Menurutku jujur saja tidak, ini hanya membangun rasa di antara kedua belah pihak sehingga terbuka jalan untuk naluri duniawi, dan cukuplah Allah yang Tahu selanjutnya, bagaimana tujuan dari perbicangan itu.

Memang benar, tetapikan tidak bertemu dan tidak ada kata-kata yang keji, ya, tetapi Allah Mengetahui maksud dari setiap hati, apalagi kejelasan itu adalah ragu, kenapa tidak langsuang saja tampak sekalian haramnya daripada keraguannya, dengan mengatakan maukah kamu menjadi pacarku? Itu lebih jelas. Atau secara jelas halalnya datangi walinya dan sampaikan maksud dari hati sehingga wali si calon menyampaikan kepada sicalon dan setelah itu baru ada ta’aruf.

Pembimbangan di hati itu bukanlah seimbangnya dunia dan akhirat tetapi hanya ingin memenuhi naluri duniawi, dan saya maaf sekali bukanlah orang yang mampu sepenuhnya menghindari ini, maka inilah wahai teman mengapa aku tidak menjawab dari banyak pertanyaanmu. Semoga Allah Mengampuni saya yang menyampaikan padahal belum mampu sepenuhnya berbuat.

Lanjut?? Saya sudah mulai letih mengetik dan memilih kata-kata yang baik.
Memanglah menyegerakan menikah adalah sunnah, tetapi membangun dari sebuah yang sengaja di bathilkan bukanlah itu tujuannya. Tetapi walaupun dari itu tidak baik menilik dari segi pendapat saya sebaiknya saya sudahi semua yang ada dipikiran ini tidak dapat saya tuangkan sepenuhnya dan sebagai penutup saya kutip hadits berikut :
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda: “ Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka tercabutlah dari mereka kehebatan Islam, Dan apabila umatku meninggalkan amar ma’ruf  nahi mungkar maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling mencaci satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah SWT  (H.R. Hakim dan Tirmidzi)

Wallahu a’lam bisshawabb
Muhammad Zainal Arif Hutabarat 




Untuk Iklan dan Donasi disini


3 komentar:

Anonim mengatakan...

titik tutuk , sopo sing weruh titik bakale tutuk (sampai ke alloh)

pedang75 mengatakan...

Umat yang terbaik adalah umat akhir zaman dan dikalangan umat akhir zaman, para sahabatlah merupakan contoh pengikut Nabi saw yang terbaik sehinggakan 10 orang dari mereka dijanjikan syurga. Apabila kita mengambil atau mengamalkan agama yang tidak bersumber dari mereka atau agama yang tanpa melalui mereka , Kita sebenarnya sedang menyimpang dari jalan yang ditunjuki oleh rasul saw.

Banyak tersebar dikalangan masyarakat pada hari ini tentang rahsia dan hakikat titik huruf ba bahkan juga huruf-huruf yang lain. Lebih mendalam lagi ada yang menafsirkan AlQuran dengan
Mengatakan seluruh Al Quran tersimpul didalam surah al Fatihah dan surah al fatihah tersemat didalam bismillahirrahanirahim dan Bismillah itu terkumpul dalam huruf ba dan akhirnya seluruh Al Quran terkandung didalam titik ba. Bahkan ada yang menafsir huruf2 hijaiyyah dengan tafsir zahir dan tafsir batin…

Kebanyakkan surat2 rasulullah saw masih dapat kita tatapi pada hari ini..Maka ,matlah pelik untuk kita mempercayai tafsiran2 ttg Al Quran yang amat bertentangan dengan apa yg terzahir dari sirah2 Rasulullah saw. Bertambah pelik apabila mereka percaya bahawa konsep seluruh Al quran bermula dari titik huruf ba....titik adalah sekadar titik. ia adalah satu mekanisme untuk memudahkan pembacaan al Quran..sebagaimana tanda2 lain yg ditambah.oleh Saidina Usman r.a ..bahkan rasulullah saw dan para sahabat baginda tidak menggunakan titik pada zamanNya.

Salah satu surat Nabi saw (tertera cop mohor kenabian)



Mushaf al Al Quran pertama kali dibukukan adalah semasa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a atas saranan Umar r.a .Penulisan al Quran ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit r.a.
Pada masa pemerintahan Umar r.a tidak berlaku peristiwa penting tentang mushaf Alquran. Namun semasa pemerintahan Usman r.a, sebanyak 6 buah Mushaf AlQuran telah disalin drpd naskhah mushaf yang asal yang dipinjamkan dari hafsah r.anha. Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang dikenal sebagai Mushaf al-Imam. Adapun Tulisan yang dipakai oleh jemaah yang dibentuk Usman r.a untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath iaitu tanpa harakat atau Syakl (tanda baris bacaan) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

titik2 huruf Al Quran hanya dikenali dalam dunia islam disekitar tahun 80 hijrah atas arahan khalifah Malik bin Marwan, beliau mengarahkan al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafy, gabernur Irak waktu itu (75-95 H), untuk menyelesaikan ‘wabah’ al-‘ujmah yang berlaku akibat kemasukan orang bukan arab kedalam agama islam beramai-ramai. Al-Hajjaj pun memilih Nahsr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar untuk misi ini, sebab keduanya adalah yang paling ahli dalam bahasa dan qira’at. Antara yg dilakukan adalah :

a. untuk membezakan antara دdal dan ذdzal, رra’ dan زzay, صshad dan ضdhad, طtha’ dan ظzha’, serta ع‘ain dan غ ghain, maka huruf-huruf pertama dari setiap pasangan itu diabaikan tanpa titik (al-ihmal), sedangkan huruf-huruf yang kedua diberikan satu titik di atasnya (al-i’jam).

b. untuk pasangan سsin dan ش syin, huruf pertama diabaikan tanpa titik satupun, sedangkan huruf kedua (syin) diberikan tiga titik. Ini disebabkan karena huruf ini memiliki tiga ‘gigi’, dan pemberian satu titik saja diatasnya akan menyebabkan ia sama dengan huruf nun. Pertimbangan yang sama juga menyebabkan pemberian titik berbeda pada huruf-huruf ب ba’, ت ta, ث tsa, ن nun, dan يya’.

c. untuk rangkaian huruf جjim, حha’, dan خkha’, huruf pertama dan ketiga diberi titik, sedangkan yang kedua diabaikan.

d. sedangkan pasangan فfa’ dan قqaf, seharusnya jika mengikuti aturan sebelumnya, maka yang pertama diabaikan dan yang kedua diberikan satu titik diatasnya. Hanya saja kaum muslimin di wilayah Timur Islam lebih cenderung memberi satu titik atas untuk fa’ dan dua titik atas untuk qaf. Berbeda dengan kaum muslimin yang berada di wilayah Barat Islam (Maghrib), mereka memberikan satu titik bawah untuk fa’, dan satu titik atas untuk qaf.

pedang75 mengatakan...

Umat yang terbaik adalah umat akhir zaman dan dikalangan umat akhir zaman, para sahabatlah merupakan contoh pengikut Nabi saw yang terbaik sehinggakan 10 orang dari mereka dijanjikan syurga. Apabila kita mengambil atau mengamalkan agama yang tidak bersumber dari mereka atau agama yang tanpa melalui mereka , Kita sebenarnya sedang menyimpang dari jalan yang ditunjuki oleh rasul saw.

Banyak tersebar dikalangan masyarakat pada hari ini tentang rahsia dan hakikat titik huruf ba bahkan juga huruf-huruf yang lain. Lebih mendalam lagi ada yang menafsirkan AlQuran dengan
Mengatakan seluruh Al Quran tersimpul didalam surah al Fatihah dan surah al fatihah tersemat didalam bismillahirrahanirahim dan Bismillah itu terkumpul dalam huruf ba dan akhirnya seluruh Al Quran terkandung didalam titik ba. Bahkan ada yang menafsir huruf2 hijaiyyah dengan tafsir zahir dan tafsir batin…

Kebanyakkan surat2 rasulullah saw masih dapat kita tatapi pada hari ini..Maka ,matlah pelik untuk kita mempercayai tafsiran2 ttg Al Quran yang amat bertentangan dengan apa yg terzahir dari sirah2 Rasulullah saw. Bertambah pelik apabila mereka percaya bahawa konsep seluruh Al quran bermula dari titik huruf ba....titik adalah sekadar titik. ia adalah satu mekanisme untuk memudahkan pembacaan al Quran..sebagaimana tanda2 lain yg ditambah.oleh Saidina Usman r.a ..bahkan rasulullah saw dan para sahabat baginda tidak menggunakan titik pada zamanNya.

Salah satu surat Nabi saw (tertera cop mohor kenabian)



Mushaf al Al Quran pertama kali dibukukan adalah semasa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a atas saranan Umar r.a .Penulisan al Quran ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit r.a.
Pada masa pemerintahan Umar r.a tidak berlaku peristiwa penting tentang mushaf Alquran. Namun semasa pemerintahan Usman r.a, sebanyak 6 buah Mushaf AlQuran telah disalin drpd naskhah mushaf yang asal yang dipinjamkan dari hafsah r.anha. Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang dikenal sebagai Mushaf al-Imam. Adapun Tulisan yang dipakai oleh jemaah yang dibentuk Usman r.a untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath iaitu tanpa harakat atau Syakl (tanda baris bacaan) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

titik2 huruf Al Quran hanya dikenali dalam dunia islam disekitar tahun 80 hijrah atas arahan khalifah Malik bin Marwan, beliau mengarahkan al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafy, gabernur Irak waktu itu (75-95 H), untuk menyelesaikan ‘wabah’ al-‘ujmah yang berlaku akibat kemasukan orang bukan arab kedalam agama islam beramai-ramai. Al-Hajjaj pun memilih Nahsr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar untuk misi ini, sebab keduanya adalah yang paling ahli dalam bahasa dan qira’at. Antara yg dilakukan adalah :

a. untuk membezakan antara دdal dan ذdzal, رra’ dan زzay, صshad dan ضdhad, طtha’ dan ظzha’, serta ع‘ain dan غ ghain, maka huruf-huruf pertama dari setiap pasangan itu diabaikan tanpa titik (al-ihmal), sedangkan huruf-huruf yang kedua diberikan satu titik di atasnya (al-i’jam).

b. untuk pasangan سsin dan ش syin, huruf pertama diabaikan tanpa titik satupun, sedangkan huruf kedua (syin) diberikan tiga titik. Ini disebabkan karena huruf ini memiliki tiga ‘gigi’, dan pemberian satu titik saja diatasnya akan menyebabkan ia sama dengan huruf nun. Pertimbangan yang sama juga menyebabkan pemberian titik berbeda pada huruf-huruf ب ba’, ت ta, ث tsa, ن nun, dan يya’.

c. untuk rangkaian huruf جjim, حha’, dan خkha’, huruf pertama dan ketiga diberi titik, sedangkan yang kedua diabaikan.

d. sedangkan pasangan فfa’ dan قqaf, seharusnya jika mengikuti aturan sebelumnya, maka yang pertama diabaikan dan yang kedua diberikan satu titik diatasnya. Hanya saja kaum muslimin di wilayah Timur Islam lebih cenderung memberi satu titik atas untuk fa’ dan dua titik atas untuk qaf. Berbeda dengan kaum muslimin yang berada di wilayah Barat Islam (Maghrib), mereka memberikan satu titik bawah untuk fa’, dan satu titik atas untuk qaf.

Poskan Komentar