Selasa, 13 Juli 2010

Perkawinan Suku Nias

TATA CARA URUTAN ADAT PERKAWINAN NIAS
Disusun kembali oleh : Pdm.PETERADY CHRISTIAN ZENDRATO



Penjelasan Awal

Umumnya aktivitas adat yang paling penting dalam adat NIAS adalah perkawinan.,selain dari peristiwa kematian.Pada masa dahulu, perkawinan di NIAS telah ditentukan dari sejak anak kecil ( ditunangkan ). Tidak diperlukan persetujuan dari anak gadisnya, bahkan setelah ia dipertunangkan sampai hari perkawinannya, si gadis tidak boleh sama sekali menampakkan diri kepada tunangannya dan kaum kerabatnya, tradisi ini masih berlaku sampai sekarang di pedesaan NIAS.

Perkawinan di NIAS umumnya dilakukan dalam system mengambil isteri diluar clan/fam ( marga-nya = System exogam ) Di Nias berlaku adat eksogami mado dalam batas batas tertentu.Artinya; seseorang boleh kawin dengan orang se-madonya( semarganya ) asalkan ikatan kekerabatan leluhurnya sudah mencapai 10 angkatan keatas ( 10 generasi ). Proses perkawinan di NIAS berjalan menurut peradatan daerah wilayah hukum adat ( fondrako ) masing masing negeri ( Banua ) yang dipimpin oleh seorang Salawa/Sanuhe

Bagi masyarakat Suku NIAS, Perkawinan adalah kehidupan yang harus diteruskan diatas bumi ini.Perempuan dianggap sebagai sumber kehidupan. Mengawini perempuan di NIAS disebut juga : MANGAI TANOMO NIHA ( mengambil benih manusia ) yang terdapat pada pihak perempuan : disebut dengan istilah UWU/Sibaya atau Ulu ( artinya = paman /saudara ibu ). Perempuan dilambangkan sebagai hulu (kehidupan ) dan laki laki disimbolkan sebagai hilir(kematian ).Untuk memiliki kehidupan,lelaki harus melawan arus sungai (manoso ) disebut Soroi Tou,menuju hulu ( pihakj perempuan) yang berada diatas (ngofi) tepian sungai kehidupan itu.

Gambaran melawan arus inilah yang merupakan symbol tradisi jujuran yang harus dibayar oleh fihak lelaki.Jujuran ( bowo ) berarti budi baik.Besarnya jujuran ( bowo ) yang dilaksanakan oleh lelaki, menjadi ukuran prestise/harga diri dan kedudukan kasta pihak lelaki tersebut dalam lingkungan masyarakat adat sukunya. Hal ini tergambar dalam riwayat sejarah mitos NIAS tentang manusia, yaitu :


Manusia Pertama Ditempatkan dihulu Sungai Zea

Sihai menempatkan manusia pertama tadi (Tuha Sangehangehao, Tuha Sangaewangaewa) di hulu Sungai Zea di langit pertama (Teteholi Ana’a). Sihai menyerahkan kepadanya “yang sembilan jenis, yang sembilan bidang” (si siwa motöi, si siwa göla). Ia menyerahkan kepadanya seluruh muka bumi (Teteholi Ana’a) beserta segala isinya (lumut, sulur, rumput, kayu hutan, ikan di laut, burung-burung di angkasa, dsb.). Manusia inilah wakil diri Sihai, yang menjadi tuan seluruh alam.


Penciptaan Perempuan

Kalau dalam Kitab Suci Kristen, Hawa (Eva) diambil dari tulang rusuk Adam (manusia pertama), maka dalam Hoho “Fomböi Böröta Niha” ini, perempuan diciptakan dari bahan yang hampir sama dengan bahan penciptaan laki-laki: kelopak putik yang jatuh dari pohon Tora’a. Prosesnya pun hampir sama: pohon Tora’a bermayang dan berputik (tetapi tidak disebutkan apakah di bagian pucuk seperti pada penciptaan laki-laki).
Sihai mengambil kelopak putik yang jatuh di pangkal banir pohon Tora’a tersebut dan menjadikannya perempuan. Namanya: Buruti Sangazöngazökhi, Buruti So’ungoi Ngaoma. Hoho ini tidak menceritakan proses yang lebih rinci seperti pada penciptaan laki-laki (peran Baliu dan Laelu tidak disinggung sama sekali).


Sihai memberikan Perempuan kepada Laki-laki

Perempuan yang diciptakan tadi diberikan Sihai kepada ciptaan pertama (sia’a womböi) - Tuha Sangehangehao, Tuha Sangaewangaewa. Perempuan menjadi teman dalam segala hal: teman untuk memikul beban (berbagai masalah), teman berdiskusi (samatohu fangerangera), Melihat pasangannya, Tuha Sangehangehao bergembira, sangat senang, senyum tersungging di bibirnya. Sebagai bukti cintanya, Tuha memanggil Buruti sebagai “si jantung hati”, Ia menyambutnya dengan kedua tangannya. Buruti menjadi isteri “belahan diri” Tuha. Mereka makan dari “piring” yang sama, sirih yang satu mereka bagi dua. Ketika berjalan, langkah mereka serentak, ketika bekerja mereka saling mengajak.


Suasana Kebersamaan Tuha Sangehangehao dan Buruti Sangazöngazökhi

Hoho ini melukiskan dengan sangat indah, suasana pertemuan dan kebersamaan (hubungan) Tuha Sangehangehao dengan Buruti Sangazöngazökhi. Melihat keinitiman, kemesraan atau ke-ideal-an hubungan kedua insan ini, ciptaan lain pun memberikan “kesaksian” dengan cara masing-masing: burung punai cemburu, burung enggang iri hati, udang putih menari-nari ikut ceria dan bahagia, anak kancil “mengambil hati”, anak celeng terkagum.


Sihai Gembira dan memberkati mereka

Melihat segala kebaikan dalam pasangan ciptaannya, Sihai sangat senang. Ia memberkati mereka, melipatgandakan harta kekayaan mereka: hasil ladang melimpah, ternak tak muat di kandang saking banyaknya. Sihai juga menambah-nambah kearifan dan akal budi mereka sehingga mereka tak pernah bertengkar, selalu damai. Mereka beranak cucu, “puteri dan putera”.
Dalam perkawinan adat NIAS,beratnya bowo ( jujuran ) , juga ditambah dengan :
1. Sumange : yaitu penghormatan pengantin pria terhadap ayah/ibu mertua + anak lelaki pertama ( saudara si gadis )
2. Zamolaya : Jamuan makan ( penghormatan ) pada pihak saudara laki ibu mertua dan saudara laki bapak mertua.

Secara umum tata urutan perkawinan adat NIAS dapat disebut sebagai berikut :























14 komentar:

Iwan mengatakan...

wah,, isinya bagus, ya walau kurang ngerti tentang istilah2 nya, segera ya postingan no 10 dan 11 nya!

Anonim mengatakan...

mahal ya, bayar adatnya..

Anonim mengatakan...

perkawinan yang kaya budaya, taoi sangat rumit!!

Anonim mengatakan...

Link untuk Fanema Bola kok ngga bisa diakses ya?

Setya

zairifblog mengatakan...

To Setya; Thanx atas kunjungannya, sepertinya ada yang berusaha merusak link tersebut, terimakasih atas pemberitahuannya, silahkan lihat kembali Fanema Bolanya karena admin telah memperbaiki kembali....

zairifblog mengatakan...

to Iwan: maaf file 10 dan 11 akan segera kami update, thanx atas kunjungannya.

Anonim mengatakan...

kalo boleh tahu referensinya dari buku apa ya???

zairifblog mengatakan...

Referensi di ambil dari berbagai sumber, dan dibuat atas nama yang paling atas, dan sepenuhnya disusun oleh zairifblog

Anonim mengatakan...

ini referensi bukunya apa???apa referensi dari sumber lain???

Anonim mengatakan...

referensinya dari mana ya? thx

Anonim mengatakan...

Terima kasih buat informasi ini buat kita di perantauan tahu adat dalam menukahi putri nias, thanks yaaa

zairifblog mengatakan...

to : Anonim...

Sama2..

Anonim mengatakan...

apa kah benar di dalam adat pernikahan suku nias memepelai wanita harus malam pertama dengan mertua lelaki.?

tolong di jawab ya, pleas.?

zairifblog mengatakan...

Sepengatahuan penulis, tidak ada satupun literatur resmi yang mengatakan hal tersebut, jadi jika ditanya kepada penulis, maka penulis sampaikan tidak ada benarnya jika setelah menikah malam pertama harus dengan mertua lebih dahulu,,
Semoga berkenan.

Poskan Komentar