Minggu, 04 Desember 2011

Antara Ketentuan Qadha ataukah Perencanaan Makhluk


Bismillaahirrohmanirrohiimm……

Apakah jika seorang jiwa yang hina maka hinakah dunia ini untuknya, bukankah ketika seorang pemabuk yang berjumpa dengan abid mampu mengubah jiwa yang tertukar diantara keduanya, awan yang menaungilah saksinya dalam kisah itu. Ketika begitu banyak pertanyaan akan Takdir Penguasa itu, maka hilanglah kesimpulan yang nyata. Apakah ini makna dari anjuran Rasulullah untuk tidak membicarakan Qadha?, manakah yang membingungkan, Ketentuan yang sudah adakah atau perencanaan Makhluk diluar kuasa Pemilik makhluk itu? Aku juga bingung.

Beginilah sulitnya jika hamba hanya seorang yang naïf dan bodoh. Suatu ketika apabila hamba yang betul-betul taat lalu tanpa sengaja melakukan maksiat, apakah itu dianggap dosa? Atau tidak karena bukankah sesungguhnya yang terlepas dari dosa hanya para Nabi dan Rasul. Sama seperti Adam  a.s. melakukan kesalahan dengan memakan buah Quldhi, atau Nabi Musa a.s. yang menganggap dirinya paling pintar?

Lalu, jika demikian halnya, mana yang sebenar-benar hakikat? dan manakah yang sebenar-benar syari’at? Bukankah untuk setiap tindakan keduanya harus ada. Tidak sempurna ibadah apapun jika  keduanya tidak dilengkapi.

Wallahu a’lam.
Mhd Zainal Arif Hutabarat

2 komentar:

Nova Irwan mengatakan...

Terlalu tinggi jadi semakin bingung..
Dasarnya dulu di kuasai..
Wallahu a’lam.

zairifblog mengatakan...

Bukan terlalu tinggi, bukan juga tidak paham betul dasar, tetapi makna Kuasa dan di kuasai lah yang aku perhitungkan. Jadi teringat ketika Neraka meminta dua nafas Kepada Penciptanya.....

Posting Komentar