Jumat, 03 Desember 2010

Fana dan Baqa'

1. Pengertian
“Fana” artinya hilang, hancur. Sehingga dapat dipahami bahwa fana merupakan proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan.
Sedangkan kata “Baqa” artinya tetap, terus hidup. Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifah.
Sedangkan Ma’rifah adalah tingkat yang tinggi untuk bisa dekat dengan Allah, namun untuk ketingkat dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan pada lubuk hati sanubarinya tidak mudah. Semakin tinggi ma;rifah seseorang maka semakin dekat ia dengan Tuhan, yang akhirnya bersatu dengan Tuhan. Namun untuk mencapai ma’rifah seorang sufi harus bisa menghancurkan diri terlebih dahulu. Proses penghancuran diri inilah di dalam tasawwuf di sebut “Fana” yang diiringi oleh “Baqa”.

2. Faham Antara Fana Seiring Baqa
Bahwa proses penghancuran diri (fana) rupanya tidak dapat dipisahkan dari baqa (tetap, terus hidup). Maksudnya adalah apabila proses penghilangan sifat manusia dari hasil penghancuran tersebut, maka yang muncul kemudian adalah sifat yang ada pada manusia itu. Ada beberapa paham kesufian yang membuktikan adanya keseiringan fana dan baqa yaitu :
A. “Jika kejahilan dari seseorang hilang yang akan tinggal adalah pengetahuan”
B. “Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, maka yang akan tinggal ialah taqwanya”
C. “Siapa yang menghancurkan sifat-sifat (akhlak) yang buruk, maka tinggallah baginya sifat- sifat yang baik”
D. “Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya maka mempunyai sifat-sifat Tuhan”

3. Tokoh Sufi
Dalam perkembangan Tasawuf, yang di pandang sebagai tokoh sufi pertama memunculkan persoalan Fana dan Baqa adalah Abu Yazid Al Bustamilah. Sebagai paham yang dapat di anggap sebagai timbulnya fana dan baqa adalah :
A. Artinya :
“Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka akupun hidup”
B. Artinya :
“Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati; kemudia Ia membuat aku gila pada-Nya, dan akupun hidup.
……….aku berkata : Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup.
Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah melewati “Ma’rifah”. Dia mencapai “Fana dan Baqa” yang kemudian “Ittihad” bersatu dengan Tuhan.




0 komentar:

Posting Komentar