Kamis, 16 Desember 2010

Tombak Sakti

Kisah 
TOMBAK SAKTI

Dahulu di desa Mangiran, yang pada waktu itu disebut Kademangan Mangiran, ada seorang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Tak jauh dari wilayah itu ada Raja besar yang bernama Panembahan Senopati yang berkuasa di Kota Gede Mataram.
Panembahan Senopati sudah melebarkan wilayah kekuasaannya ke Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Namun sebuah Kademangan yang tak jauh dari wilayahnya terang-terangan menyatakan menolak kebesaran Senopati selaku Raja Mataram.
Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak menyembah Panembaham Senopati sebab desa Mangiran, yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Bantul itu, pada waktu itu adalah wilayah perdikan, yang artinya tanah merdeka. Karena itu, layaklah jika Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak memberikan upeti kepada Senopati.
Dikisahkan selanjutnya Ki Ageng Mangir Wonoboyo memiliki sebilah pisau, sederhana bentuknya, tidak terlalu besar ukurannya, mirip sebilah pisau dapur. Namun sesungguhnya, di dalam pisau itu terkandung kekuatan yang luar biasa. Oelh karena itu, tatkala seorang warga desa, Sarinem, masih perawan, cantik dan elok parasnya datang bertandang ke kademangan untuk meminjam pisau itu, Ki Wonoboyo tidak segera memberikannya. Setelah Sarinem menjelaskan bahwa ia memerlukan pisau itu untuk menyiapkan upacara bersih desa, permintaan itu diluluskannya dengan catatan agar berhati-hati. Pisau itu tidak boleh diletakkan di pangkuan seorang perawan, lebih-lebih yang begitu menarik bentuk tubuhnya. Sarinem bersedia memenuhi syarat itu, dan segera meninggalkan Kademangan setelah mendapatkan pisau yang diperlukannya.
Seperti biasanya pada saat ada upacara bersih desa, semua penduduk datang berkumpul memasak makanan dan menyiapkan pembungkus makanan itu, baik dari daun pisang maupun daun pohon jati.
Saat sibuk menyiapkan masakan, tanpa sengaja, pisau sakti diletakkan di pangkuan Sarienem seketika lenyap. Ternyata, secara aneh pisau itu masuk ke dalam perutnya.
Mengetahui bahwa pisau sakti miliki Ki Ageng Mangir Wonoboyo lenyap, Sarinem sangat ketakutan. Yang dibayangkan tak lain, Ki Wonoboyo pasti akan marah sekali. Perlahan-lahan, wajah Sarinem berubah menjadi semakin pucat dan akhirnya pingsan.
Para perawan yang duduk didekatnya segera menolongnya, demikian pula orang-orang yang sedang menyiapkan upacara itu. Tatkala Ki Tali Wangsa, ayah Sarinem, mengetahui peristiwaitu, segera melapor kepada Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Aneh sekali, mendengar laporan itu, Ki Wonoboyo malahan tersenyum. Kepada Ki Tali Wangsa, Ki Ageng mengatakan agar ia, sebagai ayah, tidak usah cemas. Ia berjanji akan segera mengatasi persoalan itu. Bagaimana caranya? Dikatakan dengan tenang oleh Ki Ageng bahwa saat sekarang Sarinem mengandung. Untuk membersihkan aib karena perawan mengandung tanpa suami, Ki Ageng akan mengambilnya sebagai istri. Dengan demikian, upacara bersih desa itu sekaligus juga upacara pernikahan Ki Ageng dengan Sarinem.
Beberapa hari setelah upacara itu usai, Ki Ageng mengatakan kepada Sarinem bahwa ia telah memutuskan untuk bertapa. Ki Jagabaya, yang bertanggung jawab terhadap keamanan kademangan, di angkat sebagai penggantinya sementara. Ki Tali Wangsa, Ki Jaran Tirta, dan beberapa yang tain diminta tinggal di kademangan selama Ki Ageng bertapa.
Sembilan bulan berselang semenjak peristiwa aneh itu, tibalah saat Sarinem melahirkan. Pada saat di langit bulan bulat, di tengah keheningan malam, tiba-tiba terdengarlah suara gemuruh. Bayi yang dikandung Sarinem lahir. Ia bukan bayi dengan wujud manusia, tetapi seekor naga. Seluruh desa terhenyak, para penduduk was-was Ki Tali Wangsa merasa terpukul. Namun, Sarinem tenang-tenang saja, dengan mesra diciumi naga itu seperti layaknya seorang ibu membelai anaknya tersayang. Demikianlah, beberapa jam kemudian naga itu mulai merengek meminta makan, seekor ayam dilahapnya, kemudian beberapa ekor ikan dan juga telur ayam, serta itik tanpa direbus langsung dilahap semua.
Pada suatu malam Sarinem nampak bersedih, tatkala naga itu menanyakan apa gerakan ibunya bersedih. Dijawabnya bahwa ia sudah sangat rindu kepada Ki Wonoboyo, ayah si naga. Sarinem lalu bercerita panjang lebar, siapa sesungguhnya ayah naga itu. Begitu Sarinem selesai bercerita, si naga mengajukan usul bagaimana kalau ia mencari di mana ayahnya bertapa. Sebagai anak, ia ingin menghaturkan sembah dan bakti kepada ayahnya.
Pada mulanya Sarinem tidak setuju, setelah sang naga merengek, akhirnya permohonan diluluskan. Hanya saja, naga harus mendapatkan nama sebelum pergi, dan senantiasa berhati-hati di dalam perjalanan. Dan malam itu juga, karena didorong keinginan bisa segera bertemu ayahnya, Baru Kelinting berangkat meninggalkan Kademangan Mangiran menuju Kali Progo.
Begitu tiba di pinggir kali, Baru Kelinting segera menceburkan diri kedalam sungai. Seketika itu juga, ia berubah menjadi naga raksasa, mata bagaikan sepasang matahari, dengan tubuh bersisik emas, taringnya sangat tajam dan sepasang tanduknya luar biasa runcing.
Baru Kelinting yang telah berubah itu mengeluarkan suara yang mengerikan. Penduduk bertanya-tanya, suara apa gerangan ini sehingga mampu mengguncangkan pepohonan dan membuat atap rumah dari rumbai berderak-derak, bahkan ada beberapa yang roboh berantakan. Dalam waktu singkat, Baru Kelinting yang mudah lapar itu telah menelan dua orang tukang perahu, yang biasa menjual jasa kepada mereka yang ingin menyeberang Kali Progo ke Mataram untuk berdagang. Pada waktu itu, Kerajaan Mataram mulai tumbuh menjadi kota perdagangan. Oleh karena itu, pelayanan perahu di Kali Progo sangat ramai. Ini artinya, Baru Kelinting dengan gampang memperoleh mangsanya.
Cerita tentang Baru Kelinting mulai tersebar luas. Kecemasan menghantui seluruh penduduk. Ki Ageng Mengir Wonoboyo pun mendengar bisik-bisik itu. Dalam hati Ia sudah menduga bahwa Baru Klinting itu pastilah bayi yang di kandung Sarinem. Jika benar, Baru Klinting adalah perubahan bentuk pisau dapur yang semula sederhana bentuknya, yang merasuk ke dalam perut perawan desa yang elok parasnya itu. Karena orang sudah tahu bahwa Sarinem adalah istri Ki Wonoboyo, orang pun akan mengatakan bahwa Baru Klinting adalah putra Wonoboyo.
Sekarang Baru Klinting membuat ulah, tidak hanya mengacau tapi membunuh dan memakan manusia. Terbayang di benak Wonoboyo, jika ia tidak segera bertindak, pasukan Mataram dan bahkan Pajang akan datang menggempur anaknya sendiri. Wonoboyo sendiri akan di tangkap dan di adili di depan orang banyak sebagai gembongnya perusuh, membuat rakyat sengsara.
Pada suatu malam, Ia keluar dari gua pertapaannya dilereng Gunung Merapi, berjalan ke arah selatan mengikuti aliran Kali Progo, hingga akhirnya setelah tujuh hari tujuh malam perjalanan, mereka di pertemukan. Baru Klinting kaget menghadapi manusia satu ini, karena ketenangannya. Penampilannya biasa, tutur katanya sederhana tapi memiliki daya tarik yang aneh. Oleh karena itu, betapa punlaparnya Baru Klinting berusaha menahan dirinya. Sorot mata Ki Wonoboyo membuat Baru Klinting menunduk. Lalu angin malam semilir memberi tahu si naga raksasa bahwa orang yang di depan itu adalah ayahnya.
Baru Klinting pun bersujud. Ia berharap di akui sebagai anak Ki Ageng.
Akan tetapi Ki Ageng Mangir berkata dengan suara angker, “ Aku tidak bisa menerima sembah sujudmu. Sebab selama ini kau telah menimbulkan malapataka. Kehadiranmu di dunia gagal sebagai putra seorang yang bercita-cita menegakkan perdamaian dan serta ketemtraman di bumi ini. Oleh karena itu, jika kau memang ingin menunjukkan bakti kepadaku selaku ayahmu, kau harus menebus dosa terlebih dahulu. Kau harus melingkari perut Gunung merapi. Jika panjang tubuhmu mampu mengelilingi perut gunung itu, barulah sujudmu ku terima kau ku akui sebagai anakku.”
Naga itu menyatakan kesanggupannya. Baru klinting melingkari Gunung Merapi. Namun, perut gunung itu memang besar sehingga Baru klinting harus merentangkan tubuhnya agar muncung moncongnya dapat menyentuh ekornya. Inilah tuntutannya. Ketika tinggal satu meter usaha itu hampir tercapai, Baru Klinting mulai putus asa. Jika ia memaksakan rentangannya, tubuhnya akan putus. Tanpa meminta izin lebih dahulu, lidah Baru Klinting menjulur keluar. Tepat saat itu Ki Ageng mangir Wonoboyo menghantamkan tangannya yang sakti. Baru Klinting menjerit. Lidahnya putus dan berubah menjadi ujung tombak. Kepala, tubuh, dan ekorsi naga berubah menjadi sebatang kayu,sejenis kayu pohon baru. Ki Wonoboyo segera memungutujung tombak itu dan kayu yang tergeletak segera di pasangkannya. Malam itu, Ki Ageng Mangir Wonoboyo memperoleh senjata ampuh dengan nama Tombak Baru Klinting. Konon, tombak itu hampir sama saktinya dengan Kai Plered, yang di simpan di Mataram
Dalam perjalanan pulang ke Kademangan Ki Ageng mendengar suara bisikan gaib, “ Aku akan setia mengabdi kepadamu.”
Suara itu tak lain adalah suara si Naga Baru Klinting yang kini menemukan bentuk pengabdiaannya yang cocok, sebagai penjaga keselamatan Ki Ageng Mangir.
Tombak itu di bawa pulang, terbukti kemudian, walau Panembahan Senopati mempunyai tombak Kiai plered yang ampuh namun ia tak mampu menaklukkan daerah Mangir yang di anggap mbalela.
Barulah setelah menggunakan akal picik, yaitu dengan mengirim putrinya (Raden Ayu Pambayun) yang cantik sebagai umpan, maka Ki Ageng Mangir dapat di ajak ke Kota Gede dan di sana ki ageng di jebak di atas watu gilang hingga menemui ajalnya.


2 komentar:

habibhasnan mengatakan...

http://habibhasnan.wordpress.com/2013/01/07/bukan-panembahan-senopati-pembunuh-ki-ageng-mangir/

KOL DAN SENGON TAPOS DEPOK mengatakan...

Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!.Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah cerita tentang kepengecutan P.Senopati, padahal Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://panyutro.blogspot.com/ , akan anda temui kejutan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

Posting Komentar